LAPORAN PRAKTIKUM
PUPUK
DAN PEMUPUKAN
Dosen :
( Dosen yang mengajar di kelas
masing-masing)
PENGARUH BERBAGAI TAKARAN PUPUK
N, P DAN K TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN JAGUNG
DI TANAH GAMBUT
Di
Susun Oleh :
Nama :Muh Duwi Lesmana
NIM :C1011131113
PROGRAM
STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
TANJUNGPURA
PONTIANAK
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tanaman jagung merupakan salah satu sumber karbohidrat
setelah padi dan gandum, banyak dikembangkan di Indonesia sebagai bahan
makanan, pakan dan bahan baku industri. Permintaan akan jagung terus meningkat
seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan perkembangan industry pangan
dan pakan ternak (Budiman, 2010). Jagung sebagai pakan ternak dan pangan
menempati urutan ketiga di dunia (7%) setelah padi (26%) dan gandum (23%)
(Anonim2004). Produksi jagung di Indonesia dari tahun ketahun terus meningkat,
seiring dengan permintaan yang tinggi. Produktivitas jagung di Sumatera Barat
tahun 2006 rata-rata 4,7 ton/ha dengan laju pertumbuhan 7,45% per tahun
(Anonim2004).
Produksi
jagung di Sumatera Barat dengan luas lahan 70 ribu ha adalah sekitar 400 ribu
ton setahun. Produksi rata-rata masing-masing daerah masih beragam sesuai
dengan potensi dan dukungan teknologi yang digunakan. Pesisir Selatan merupakan
salah satu produksi jagung dengan luas areal tanam rata-rata pertahun mencapai
10 ribu ha, dengan produksi rata-rata 6,5 ton/ha (Anoninm,2010).
Berbagai
usaha telah dilakukan dalam memacu peningkatan produksi jagung, tetapi dalam
perjalanannya menghadapi sejumlah permasalahan yang tidak hanya berhubungan
dengan iklim, hama, penyakit dan keseimbangan hara, tetapi juga berkaitan
dengan semakin meluasnya alih fungsi lahan termasuk lahan pertanian menjadi
kawasan industri, perumahan, dan perhubungan. Berkaitan dengan alih fungsi
lahan tersebut maka perlu memanfaatkan lahan-lahan yangtelah direklamasi,
diantaranya adalah lahan gambut. Adapun masalah dari pada lahan gambut yang ada
yaitu kemasaman tanah, status hara makro dan mikro yang rendah.
Lahan
gambut berpotensi besar untuk budidaya tanaman pangan (Setiadi,1990). Lahan
gambut cukup luas sekitar 19 juta ha yang tersebar di Kalimantan, Sumatera dan
Papua. Reklamasi lahan gambut yang telah dilakukan sampai sekarang belum menjadi
lahan gambut sebagai lahan usaha tani, karena banyak faktor yang mencekam
pertumbuhan tanaman seperti ketebalan dan taraf dekomposisi, status hara makro
dan mikro yang rendah, adanya lapisan pirit, tata air yang jelek, kemasaman
tanah dan adanya asam-asam organik meracun yang tinggi hasil dekomposisi bahan
organik secara anaerobik (Alihamsyah et
al., 2003).
Salah
satu cara mudah dan tepat untuk mengatasi masalah kemasaman tanah dan
keberadaan asam-asam organik yang meracun ini adalah dengan menanam varietas
jagung yang toleran terhadap cekaman asam-asam organik tanah gambut.
B. Tujuan
Praktikum
bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai takaran pupuk N, P dan K terhadap pertumbuhan tanaman jagung di tanah gambut.
C. Tinjauan
Pustaka
1. Jagung
Kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan)
Divisio : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)
Sub Divisio : Angiospermae (berbiji tertutup)
Classis : Monocotyledone (berkeping satu)
Ordo : Graminae (rumput-rumputan)
Familia : Graminaceae
Genus : Zea
Species : Zea mays L.
Jagung (Zea mays sp)
adalah salah satu tanaman pangan penghasil karbohidrat yang terpenting di dunia, selain gandum danpadi. Bagi penduduk Amerika Tengah dan Selatan, bulir jagung adalah pangan pokok, sebagaimana bagi sebagian penduduk Afrika dan beberapa daerah di Indonesia. Di masa kini, jagung juga sudah menjadi komponen penting pakan ternak. Penggunaan lainnya adalah sebagai sumber minyak pangan dan bahan dasar tepung maizena. Berbagai produk turunan hasil jagung menjadi bahan baku
berbagai produk industri. Dari sisi botani dan agronomi, jagung merupakan tanaman model yang menarik, khususnya di bidang genetika,fisiologi, dan pemupukan. Sejak awal abad ke-20, tanaman ini menjadi objek penelitian genetika yang intensif. Secara fisiologi, tanaman
ini tergolong tanaman
C4 sehingga sangat efisien memanfaatkan sinar matahari. Sebagian jagung juga merupakan tanaman
hari pendekyang pembungaannya terjadi
jika mendapat penyinaran di bawah panjang penyinaran matahari tertentu,
biasanya 12,5 jam. Dalam kajian agronomi, perilaku jagung yang
dramatis dan khas terhadap kekurangan atau keracunan unsur hara tertentu
menjadikan jagung sebagai tanaman percobaan fisiologi pemupukan yang disukai
Keasaman
tanah erat hubungannya dengan ketersediaan unsur-unsur hara tanaman. Keasaman
tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman jagung adalah pH antara 5,6 - 7,5.
Morfologi tanman jagung
Akar.
Akar
jagung tergolong akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 m meskipun
sebagian besar berada pada kisaran 2 m. Pada tanaman yang sudah cukup dewasa
muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang membantu menyangga
tegaknya tanaman (Burhanuddin, 2009).
Batang jagung
Batang jagung tegak dan mudah
terlihat, sebagaimana sorgum dan tebu, namun tidak seperti padi atau gandum.
Terdapat mutan yang batangnya tidak tumbuh pesat sehingga tanaman berbentuk
roset. Batang beruas-ruas. Ruas terbungkus pelepah daun yang muncul dari buku.
Batang jagung cukup kokoh namun tidak banyak mengandung lignin (Irfan, 1999).
Daun.
Daun jagung adalah daun
sempurna. Bentuknya memanjang. Antara pelepah dan helai daun terdapat ligula. Tulang
daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang
berambut. Stomata pada daun jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki familia
Poaceae. Setiap stomata dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk kipas. Struktur
ini berperan penting dalam respon tanaman menanggapi defisit air pada selsel
daun (Puslitbangtan, 1993).
Bunga.
Jagung memiliki bunga jantandan
bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious). Tiap
kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku Poaceae, yang disebut
floret. Pada jagung, dua floret dibatasi oleh sepasang glumae (tunggal: gluma).
Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga
(inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas. Bunga betina
tersusun dalam tongkol (Sinuraya, 1989).
Tongkol.
Tongkol tumbuh dari buku, di
antara batang dan pelepah daun. Pada umumnya, satu tanaman hanya dapat
menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga betina.
Buah Jagung siap panen Beberapa varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari
satu tongkol produktif, dan disebut sebagai varietas prolifik. Bunga jantan
jagung cenderung siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada bunga
betinanya protandri (Soemadi, 2000).
2. Gambut
Gambut adalah jenis tanah yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa
tetumbuhan
yang setengah membusuk,
oleh sebab itu kandungan bahan organiknya
tinggi. Tanah yang terutama terbentuk di lahan-lahan basah ini
disebut dalam bahasa
Inggris sebagai peat; dan lahan-lahan bergambut di
berbagai belahan dunia dikenal dengan aneka nama seperti bog, moor,
muskeg, pocosin, mire, dan lain-lain.
Reaksi tanah merupakan suatu istilah
yang digunakan untuk menyatakan reaksi asam atau basa dalam tanah. Sejumlah
proses dalam tanah dipengaruhi oleh reaksi tanah dan biokimia tanah yang
berlansung spesifik. Pengaruh lansung terhadap laju dekomposisi mineral tanah
dan bahan organik, pembentukan mineral lempung bahkan pertumbuhan tanaman.
Pengaruh tidak lansungnya terhadap kelarutan dan ketersediaan hara tanaman.
sebagai contoh perubahan konsentrasi fosfat dengan perubahan pH tanah.
Konsentrasi ion H+ yang tinggi bisa meracun bagi tanaman. Secara teoritis,
angka pH berkisar antara 1 sampai 14. Angka satu berarti kepekatan ion hidrogen
di dalam tanah ada 10 ‑ 1 atau 1/10 gmol/l. Tanah pada kepekatan ini sangat
asam. Sementara angka 14 berarti kepekatan ion hidrogennya 10‑14 gmol/l. Tanah
pada angka kepekatan ini sangat basa.
Tanah‑tanah yang ada di Indonesia
sangat bervariasi tingkat keasamannya. Ada tanah yang masam seperti Podsolik
Merah Kuning, dan latosol Tanah yang alkalis seperti Mediteran Merah Kuning dan
Grumosol. Bagi tanah – tanah yang bereaksi masam, seringkali tidak atau kurang
sesuai bagi pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu pada tanah‑tanah demikian
sering dilakukankan pengapuran (liming). bahan- bahan yang digunakan untuk
menaikkan pH tanah yang bereaksi masam menjadi mendekati netral dengan harga pH
sekitar 6,5.
Pada umumnya reaksi tanah baik tanah
gambut maupun tanah mineral menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah
yang dinyatakan dengan nilai pH. Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion
Hidrogen (H+) di dalam tanah. Makin tinggi kadar ion H+ di dalam tanah, semakin
masam tanah tersebut. Di dalam tanah selain H+ dan ion‑ion lain ditemukan pula
ion OH-, yang jumlahnya sebanding dengan banyaknya H+. Pada tanah‑tanah masam
jumlah ion H+ lebih tinggi daripada OH-. Sedangkan pada tanah alkalis kandungan
OH- lebih banyak daripada H+. Bila kandungan H+ sama dengan OH- maka tanah
bereaksi netral yaitu mempunyai pH 7. Bila tanah terlalu asam atau terlalu basa
maka tanaman akan tumbuh kurang sempurna sekalipun masih bisa tumbuh dan
menghasilkan buah. Memang ada beberapa tanaman tertentu yang senang di tanah
asam ataupun basa. Ketersediaan unsur hara makro di dalam tanah ini sedikit
sedangkan hara mikro seperti Besi dan Aluminium tinggi. Hal ini mengakibatkan
tanaman kekurangan hara dan keracunan. Salah satu upaya yang ditempuh dalam
upaya meningkatkan dan memperbaiki lahan masam adalah dengan menurunkan
keasaman dan meningkatkan kejenuhan basa yang diperoleh dengan pemberian kapur
serta pemupukan. Dengan adanya peningkatan kejenuhan basa, maka pH tanah naik
dan unsur hara relatif lebih mudah tersedia.
Tanah gambut di Indonesia pada umunya
mempunyai reaksi kemasaman tanah (pH) yang rendah, yaitu antara 3,0 – 5,0
(Hardjowigeno, 1996). Hasil analisis di berbagai wilayah di Sumatera,
Kalimantan, dan Irian Jaya, memperlihatkan bahwa Histosols menunjukkan reaksi tanah
masam ekstrim (pH 3,5 atau kurang) sampai sangat masam sekali (pH 3,6 –
4,5).Tanah gambut mempunyai pH yang rendah yang berkisar antara 3 – 5, dan
menurun bersama jeluk.. Dijumpainya pH yang relatif tinggi (sekitar 5) adalah
akibat seringnya dilakukan pembakaran seresah di atas tanah. Tanah gambut yang
digenangi untuk budidaya padi sawah akan meningkat pH-nya. Ketersediaan
unsur-unsur hara terutama hara makro N, P dan K dan sejumlah hara mikro dalam
tanah gambut rendah sampai sangat rendah. Kapasitas tukar kation (KTK) tanah
gambut relatif tinggi (115 – 270 me.%), tetapi relatif rendah bila dihitung
atas dasar volume tanah di lapangan. Kejenuhan basa tanah gambut relatif
rendah, yakni 5,4 – 13,6 % sedangkan nisbah C/N relatif tinggi yakni berkisar
antara 24,0 – 33,4 (Suhardjo dan Widjaja-Adhi, 1976).
Secara umum kemasaman tanah gambut
berkisar antara 3-5 dan semakin tebal bahan organik maka kemasaman gambut
meningkat. Gambut pantai memiliki kemasaman lebih rendah dari gambut pedalaman.
Kondisi tanah gambut yang sangat masam akan menyebabkan kekahatan hara N, P, K,
Ca, Mg, Bo dan Mo. Unsur hara Cu, Bo dan Zn merupakan unsur mikro yang
seringkali sangat kurang (Wong et al, 1986, dalam Mutalib et al,
1991). Kekahatan Cu acapkali terjadi pada tanaman jagung, ketela pohon dan
kelapa sawit yang ditanam di tanah gambut.Tanah gambut dengan kubah
gambut yang tebal umumnya memiliki kesuburan yang rendah dengan pH sekitar 3,3
namun pada gambut tipis di kawasan dekat tepi sungai gambut semakin subur dan
pH berkisar 4,3 (Andriesse, 1988). Kemasaman tanah gambut disebabkan oleh
kandungan asam asam organik yang terdapat pada koloid gambut. Dekomposisi bahan
organik pada kondisi anaerob menyebabkan terbentuknya senyawa fenolat dan
karboksilat yang menyebabkan tingginya kemasaman gambut. Selain itu
terbentuknya senyawa fenolat dan karboksilat dapat meracuni tanaman pertanian
(Sabiham, 1996). Jika tanah lapisan bawah mengandung pirit, pembuatan parit
drainase dengan kedalaman mencapai lapisan pirit akan menyebabkan pirit teroksidasi
dan menyebabkan meningkatnya kemasaman gambut dan air disaluran drainase.
3. Peranan Pupuk N, P dan K bagi
pertumbuhan tanaman
Pupuk
adalah material yang ditambahkan pada
media tanam atau
tanaman untuk mencukupi kebutuhan
hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu
berproduksi dengan baik.
Material
pupuk dapat berupa bahan
organik ataupun non-organik (mineral). Pupuk
berbeda dari
suplemen. Pupuk mengandung bahan baku yang
diperlukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sementara suplemen seperti
hormon tumbuhan membantu kelancaran proses
metabolisme. Meskipun demikian, ke dalam pupuk, khususnya pupuk buatan, dapat
ditambahkan sejumlah material suplemen.
Dalam pemberian pupuk perlu diperhatikan kebutuhan tumbuhan tersebut,
agar tumbuhan tidak mendapat terlalu banyak zat makanan. Terlalu sedikit atau
terlalu banyak zat makanan dapat berbahaya bagi tumbuhan. Pupuk dapat diberikan
lewat tanah ataupun disemprotkan ke
daun. Salah satu jenis pupuk organik
adalah
kompos.
Pupuk NPK adalah pupuk buatan yang berbentuk cair atau padat yang mengandung unsur
hara utama nitrogen, fosfor, dan kalium. Pupuk NPK
merupakan salah satu jenispupuk majemuk yang paling umum digunakan.
Ketiga unsur dalam pupuk NPK membantu
pertumbuhan tanaman dalam tiga cara. Penjelasan singkatnya adalah sebagai
berikut:
·
Nitrogen (N)
Nitrogen diserap oleh tanaman sebagai NO3- dan NH4+ kemudian
dimasukkan ke dalam semua gas amino dan Protein (Indrana, 1994). Ada juga
bentuk pokok nitrogen dalam tanah mineral, yaitu nitrogen organik, bergabung
dengan humus tanah nitrogen amonium dapat diikat oleh mineral lempung
tertentu, dan amonium anorganik dapat larut dan senyawa nitrat (Buckman dan
Brady, 1992).
Nitrogen yang tersedia tidak dapat langsung digunakan, tetapi harus mengalami
berbagai proses terlebih dahulu. Pada tanah yang immobilitasnya rendah nitrogen
yang ditambahkan akan bereaksi dengan pH tanah yang mempengaruhi proses
nitrogen. Begitu pula dengan proses denitrifikasi yang pada proses ini
ketersediaan nitrogen tergantung dari mikroba tanah yang pada umumnya lebih
menyukai senyawa dalam bentuk ion amonium daripada ion nitrat (Poerwowidodo,
1992).
Peranan utama nitrogen (N) bagi tanaman jagung adalah merangsang pertumbuhan
secara keseluruhan, khususnya batang, cabang dan daun. Selain itu,
nitrogen pun berperan penting dalam pembentukan zat hijau daun yang sangat
berguna dalam proses fotosintesis (Jumin, 1992).
Pupuk
N dengan bantuan organik. Pupuk ini hasil sampingan industri
pertanian. Pupuk ini pada umumnya pelepasan N-nya lambat, hanya setelah
dimineralisasi akan menjadi lebih cepat. Pupuk N dari organic ini
sebagian besar dipergunakan diperusahaan khusus, seperti perusahaan pohon
buah-buahan, sayuran dan bunga, karena sangat meningkatkan kesuburan
tanah. Kadang-kadang pupuk ini digolongkan dalam pupuk majemuk, karena
selain mengandung N juga mengandung P dan K walaupun hanya sedikit. Pada
umumnya pupuk ini diberikan ke dalam tanah sebelum ditanami, kandungan N juga
tidak begitu tinggi, hanya sekitar 4-15 % (Pinus Lingga, 1993).
·
N –
nitrogen: membantu pertumbuhan vegetatif, terutama daun
-Merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan
-Merupakan bagian dari sel ( organ ) tanaman itu sendiri
-Berfungsi untuk sintesa asam amino dan protein dalam tanaman
-Merangsang pertumbuhan vegetatif ( warna hijau ) seperti daun
-Tanaman yang kekurangan unsur N gejalanya : pertumbuhan lambat/kerdil, daun
hijau kekuningan, daun sempit, pendek dan tegak, daun-daun tua cepat menguning
dan mati.
Phosphor (P)
Paling
sedikit ada empat sumber pokok fosfor untuk memenuhi kebutuhan akan unsur ini,
yaitu pupuk buatan, pupuk kandang, sisa-sisa tanaman termasuk pupuk hijau, dan
senyawa asli unsur ini yang organik dan anorganik, yang terdapat dalam tanah.
Unsur P diserap tanaman dalam bentuk ortofosfat primer, H2PO4.
menyusul kemudian dalam HPO42-. Species ion yang merajai
tergantung dari PH sistem tanah-pupuk-tanaman, yang mempunyai ketersediaan
tinggi pada pH 5,5-7. kepekatan H2PO4 yang tinggi
dalam larutan tanah memungkinkan tanaman mengangkutnya dalam takaran besar
karena perakaran tanaman diperkirakan mempunyai 10 kali penyerapan tanaman
untuk H2PO4 dibanding untuk HPO42- (Hardjowigeno,
1993).
Bentuk
P yang lain yang dapat diserap tanaman adalah pirofosfat dan metafosfat. Kedua
bentuk ini misalnya terdapat dalam bentuk pupuk P dan K metafosfat. Tanaman
juga menyerap P dalam bentuk fosfat organik, yaitu asam nukleat dan phytin.
Kedua bentuk senyawa ini terbentuk melalui proses degradasi dan dekomposisi
bahan organik yang langsung dapat diserap oleh tanaman (Hakim, dkk, 1986).
Gejala
kekurangan P pada tanaman jagung dapat menjadikan pertumbuhan terhambat
(kerdil), daun-daun/malai menjadi ungu atau coklat mulai dari ujung daun, dan
juga pada jagung akan menyebabkan tongkol jagung menjadi tidak sempurna dan
kecil-kecil Pupuk ini mengandung fosfat yang bersifat masam dan terdapat
dalam bentuk mudah dilarutkan dalam air, pupuk ini disebut super fosfat, ada
bentuk lain yang hanya larut dalam nitrat ammnia seperti scoreis dan
fosfat. Fosfat ini sama sekali tidak bias dilarutkan dalam air atau
nitrat. Pupuk P yang bias dilarutkan dalam air. Bentuk ini dapat
dipakai pada semua jenis tanaman dan tanah (Rosmarkam, 2002).
Pupuk
P yang tidak melarut. Walaupun bentuk ini tidak larut dalam air ataupun
dalam ammonium nitrat, naum dapat dihisap oleh tanaman pada tanah masam.
Bentukbentuknya ialah fosfta yang tergiling atau hypephosphat. Pada tanah
masam semua bentuk P dapat dipakai, sedang tanah yang berkapur hanya
bentuk-bentuk yang mencair dapat dipakai (Poerwidodo, 1992).
·
P – fosfor: membantu
pertumbuhan akar dan tunas
Fosfor ( P )
-Berfungsi untuk pengangkutan energi hasil metabolisme dalam tanaman
-Merangsang pembungaan dan pembuahan
-Merangsang pertumbuhan akar
-Merangsang pembentukan biji
-Merangsang pembelahan sel tanaman dan memperbesar jaringan sel
-Tanaman yang kekurangan unsur P gejaalanya : pembentukan buah/dan biji
berkurang, kerdil, daun berwarna keunguan atau kemerahan ( kurang sehat )
·
Kalium (K)
Berbagai bentuk kalium dalam tanah digolongkan atas dasar ketersediaannya
menjadi 3 golongan besar yaitu bentuk relatif tidak tersedia, mudah tersedia,
dan lambat tersedia. Senyawa yang mengandung sebagian besar bentuk kalium ini
adalah feldspat dan mika, bahwa sumber-sumber kalium adalah beberapa jenis
mineral, sisa-sisa tanaman dan jasad renik, air irigasi serta larutan
dalam tanah, dan pupuk buatan (Suprapto, 1998).
Unsur
ini diserap tanaman dalam bentuk ion K+ dan dapat dijumpai di
dalam tanah dalam jumlah yang bervariasi, namun jumlahnya dalam keadaan
tersedia bagi tanaman biasanya kecil. Kalium ditambahkan ke dalam tanah dalam
bentuk garam-garam mudah larut seperti KC1, K2SO4, KNO3,
dan K-Mg-SO4. Mekanisme penyerapan K mencakup aliran massa, konveksi, difusi,
dan serapan langsung dari permukaan zarah tanah (Hardjowigeno, 1993).
Di
dalam tanah, ion K bersifat sangat dinamis dan juga mudah tercuci pada tanah
berpasir dan tanah dengan pH yang rendah. Sekitar 1-10% terjebak dalam koloid
tanah karena kaliumnya bermuatan positif. Bagi tanaman, ketersediaan kalium
pada posisi ini agak lambat. Kandungan kalium sangat tergantung dari jenis
mineral pembentuk tanah dan kondisi cuaca setempat. Persediaan kalium di dalam
tanah dapat berkurang oleh tiga hal, yaitu pengambilan kalium oleh tanaman,
pencucian kalium oleh air, dan erosi tanah (Harisuseno, 1997).
Peranan kalium secara fisiologis adalah metabolisme karbohidrat, yakni
pembentukan pemecahan, dan translokasi pati, metabolisme nitrogen dan sintesis
protein, mengawasi dan mengatur kegiatan berbagai unsur mineral, netralisasi
asam-asam organik penting secara fisiologis, mengaktifkan berbagai enzim,
mempercepat proses pertumbuhan jaringan meristematik, mengatur pergerakan
stomata dan hal-hal yang berhubungan dengan air (Suprapto, 1998).
Pupuk
yang mengandung K bentuk-bentuknya adalah Sylvinite, adalah pupuk yang
mengandung 40 % K2O, adalah garam mineral yang tersuisun dari
garam-garam tambang. Kalium khlorida adalah pupuk yang mengandung 60 % K2O,
pupuk ini adalah bentuk yang paling banyak dipakai dimana-mana, kecuali tanaman
yang memang tidak tahan terhadap Cl, seperti tembakau dan sayur-sayuran.
Kalium sulfat adalah pupuk yang
mengandung pula belerang 10 %
tetapi dapat dipakai ada tanaman yang tidak tahan
Cl. KCl adalah pupuk yang mengandung 52 % K2O
dan 8 % Mg yang diimpor dari Jerman, banyak dipakai untuk
tanaman buah-buahan yang banyak memerlukan kecuali K juga Mg nitrat (Buckman
dan Brady, 1992).
K – kalium:
-membantu pembungaan dan pembuahan
-Berfungsi dalam proses fotosintesa, pengangkutan hasil asimilasi, enzim dan
mineral termasuk air.
-Meningkatkan daya tahan/kekebalan tanaman terhadap penyakit
Tanaman yang kekurangan unsur K gejalanya :
-batang dan daun menjadi
lemas/rebah
-daun berwarna hijau gelap kebiruan
tidak hijau segar dan sehat
- ujung daun menguning dan kering
-timbul bercak coklat pada pucuk
daun.
4. Kapur
Pengapuran adalah upaya yang dilakukan untuk
meningkatkan pH tanah dengan menambahkan kapur kedalam tanah. Tujuan utama dari
pengapuran ini ialah untuk meningkatkan pH dari pH masam menjadi pH netral.
Pada pH tanah yang masam, banyak unsur hara (misalnya: N, P, K, Ca, Mg) yang
tidak tersedia bagi tanaman karena pada pH rendah unsur tersebut rusak. Hanya
unsur Fe dan Al (unsur mikro) yang tersedia pada tanah masam. Maka diharapkan,
dengan pengapuran akan meningkatkan pH menjadi netral, dimana pada pH netral
banyak unsur hara yang dapat tersedia bagi tanaman.
Pemberian kapur (
pengapuran) adalah salah satu tindakan perbaikan
()ameliorasi) tanah agar
pH tanah meningkat. Tanah yang terlalu
masam (pH rendah) tidak dapat menyediakan beberapa
hara mineral penting bagi tanaman, seperti
fosfor dan
kalsium, dan
sebaliknya meningkatkan kelarutan beberapa mineral yang dapat meracun (toksik)
bagi tanaman. Pemberian kapur (
liming), baik kapur kalsium maupun yang
mengandung magnesium, dapat memperbaiki kesuburan tanah dan meningkatkan hasil.
Jenis kapur yang diberikan tergantung dari tujuan pengapuran: kapur
giling (kalsit super),
kapur tohor atau kapur hidup (kalsit,
quicklime),
dolomit, kapur
mati atau kapur
tembok (slaked lime,
Ca(OH)2), kapur liat atau marl,
kapur bara (slag), dan cangkang kerang.
Untuk beberapa komoditi
tanaman yang lain di sajikan dalam tabel di bawah ini :
Tanaman
|
pH Optimum
|
Padi
|
5-6.5
|
Jagung
|
5.5-7
|
Kedelai
|
6-7
|
Kacang Tanah
|
5.5-6.5
|
Tebu
|
6-8
|
Tomat
|
5.5-7.5
|
Cabai
|
5.5-6.5
|
Tenbakau
|
5-6
|
Kubis
|
5.5-7.5
|
Seledri
|
6-7
|
Nanas
|
6-8
|
Pisang
|
6-7.5
|
D. Hipotesa
Diduga perlakuan berbagai takaran pupuk
N, P dan K berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman jagung di tanah gambut.
BAB II
METODA PRAKTIKUM
A. Waktu dan
Lokasi
Dalam proses praktikum pupuk dan pemupukan ini, kami
diberikan bimbingan oleh asisten dosen pembimbing praktikum di lapanang.
Praktikum dilakukan dilahan yang sudah disediakan oleh pihak fakultas, tepatnya
di kawasan lahan tempat mahasiswa melakukan penelitian di lahan fakultas
pertanian. Proses budidaya tanaman jagung ini mulai dari tanggal09 April 2015 dan pengamatan mulai tanggal 14
April – 28 Mei 2015.
Tabel
1. Jadwal Waktu Pelaksanaan Praktikum
No
|
Kegiatan
|
Minggu
Ke
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
11
|
12
|
13
|
1
|
Persiapan Media Tanam
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Pemberian Pupuk Dasar
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Penanaman
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Pemeliharaan Tanaman
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Panen
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6
|
Pengolahan Data
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7
|
Penyusunan Laporan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
B. Alat dan Bahan
1. Alat
- Cangkul
- Meteran
- Polybag
- Timbangan
- Jangka sorong
- Karung
2. Bahan
-
benih Jagung
Bonanza F1
-
tanah gambut
-
pupuk (N,P, dan
K)
-
kapur Dolomit
-
air
1. Benih
Benih yang di gunakan
adalah benih jagung manis yang sudah di siapkan oleh laboolatorium yaitu benih
jagung Bonanza F1
2. Persiapan Media Tanam &Pemupukan
Persiapan
media tanam dilakukan dengan mengisi tanah gambut kedalam polibag dengan berat
8 kg per polybag. Polybag yang sudah terisi oleh tanah gambut kemudian
ditambahkan kapur Dolomit sebanyak 80 gr/polybag kemudian di inkubasi selama
sehari. Kemudian ditambahkan pupuk urea, dan KCL dan SP-36 dengandosis yang
berbeda-beda.
Dengan perlakuan sebagai berikut:
Untuk Kelompok 4,5,6
Ulangan
|
Perlakuan
|
N(Urea)/gr
|
P(SP-36)/gr
|
K(KCL)/gr
|
Kapur/gr
|
P0
|
0
|
0
|
0
|
80
|
P1
|
8
|
0
|
2
|
80
|
P2
|
8
|
1,2
|
2
|
80
|
P3
|
8
|
2,4
|
2
|
80
|
P4
|
8
|
3,6
|
2
|
80
|
P5
|
8
|
4,8
|
2
|
80
|
P6
|
8
|
6
|
2
|
80
|
3. Penanaman
Penanaman
dilakukan setelah media tanam telah siap
digunakan, benih yang digunakan yaitu jagung manis (Bonanza F1). Penanaman
diberikan tiga benih per polibag dan dilakukan pada sore hari
4.
Pemeliharaan
Setelah benih ditanam maka perlu adanya pemeliharaanseperti :
·
Penyiraman
dilakukan setiap 1 X dalam 2 hari pada masa vegetatif. Penyiraman dilakukan
bertujuan agar air tersedia bagi tanah gambut sehingga tidak menyebabkan
kekeringan bagi tanah, serta air juga tersedia bagi tanaman
·
Pengendalian
gulma dilakukan jika ada gulma yang tumbuh diantara budidaya tanaman jagung. Biasanya penyiangan dilakukan 1 X
penyiangan dalam 2 minggu didalam polibag atau diluar polibag, sehingga tanaman
jagung terbebas dari gangguan gulma. Dimana kita ketahui bahwa gulma dapat
mengganggu pertumbuhan dan perkembangan dan hasil produksi tanaman jagung yang
kita budidayakan
5.
Panen
Panen di lakukan ketika tongkol jagung
sudah besar namun pada pratikum ini tidak sampai pada tahap pemanenan. Hanya
saja pengambilan data dilkukan pada masa vegetatif maksimum selesai, yaitu
ditandai dengan munculnya bunga pada tanaman.
D. Pengamatan
Tabel . Tinggi tanaman (cm)
No
|
Perlakuan
|
Rerata
Pengamatan Minggu ke
|
M-1
|
M-2
|
M-3
|
M-4
|
M-5
|
M-6
|
M-7
|
M-8
|
1
|
P0
|
18,5
|
35
|
39,33
|
58,16
|
72,79
|
90,66
|
91,03
|
111,05
|
2
|
P1
|
13
|
28,5
|
30,56
|
41,3
|
63
|
77,83
|
88,06
|
103
|
3
|
P2
|
13
|
31,5
|
33,5
|
55,14
|
85,8
|
123,2
|
157,71
|
169
|
4
|
P3
|
20,5
|
28
|
40,94
|
62,27
|
77,94
|
100,1
|
116,93
|
124,5
|
5
|
P4
|
14,5
|
33,7
|
41,83
|
57,07
|
90,91
|
126,23
|
152,21
|
162,5
|
6
|
P5
|
12,5
|
21
|
31,77
|
52,73
|
76,11
|
103,64
|
133,71
|
147
|
7
|
P6
|
8
|
16
|
23,14
|
36,07
|
48,35
|
61,1
|
75,71
|
83,5
|
Tinggi tanaman di ukur setiap hari untuk mengantisipasi jika
tanaman mati, tinggi tanaman diukur pada saat daun tanaman terbuka(kanopi
terbuka) hal ini karena tanaman sudah bias di ukur tingginya. Pengukuran tinggi
tanaman monokotil yaitu diukur pada saat daun sudah terbuka sempurna, karena pengukuran tanaman
monokotil di ukur dengan sampai ujung daun terpanjang.
Tabel . Diameter batang (cm)
No
|
Perlakuan
|
Rerata
Pengamatan Minggu ke
|
M-1
|
M-2
|
M-3
|
M-4
|
M-5
|
M-6
|
M-7
|
M-8
|
1
|
P0
|
0,2
|
0,3
|
0,46
|
0,67
|
0,85
|
1,19
|
1,2
|
1,2
|
2
|
P1
|
0,2
|
0,2
|
0,39
|
0,60
|
0,75
|
1,01
|
1,2
|
1,3
|
3
|
P2
|
0,3
|
0,3
|
0,42
|
0,58
|
1,2
|
1,75
|
1,98
|
2,2
|
4
|
P3
|
0,2
|
0,2
|
0,41
|
0,63
|
0,96
|
1,31
|
1,41
|
1,5
|
5
|
P4
|
0,3
|
0,3
|
0,55
|
1,1
|
1,26
|
1,75
|
1,88
|
1,97
|
6
|
P5
|
0,3
|
0,3
|
0,45
|
0,7
|
1,13
|
1,51
|
1,9
|
2,1
|
7
|
P6
|
0,27
|
0,3
|
0,38
|
0,7
|
0,81
|
1
|
1,1
|
1,1
|
Pada diameter batang, pengamatan yang kami lakukan dengan
menghitung diameter setiap hari menggunakan jangka sorong yang disediakan oleh
labolatorium. Pengukuran ini dilakukan dengan mengukur pangkal batang tanaman
jagung yang pipih.
Tabel . Jumlah Daun (Helai)
No
|
Perlakuan
|
Rerata
Pengamatan Minggu Ke
|
M-1
|
M-2
|
M-3
|
M-4
|
M-5
|
M-6
|
M-7
|
M-8
|
1
|
P0
|
2
|
4
|
4,85
|
6,42
|
7
|
7
|
8,57
|
7
|
2
|
P1
|
2
|
2
|
3,85
|
4,71
|
6,86
|
6,86
|
8,43
|
7,5
|
3
|
P2
|
1
|
3
|
4,42
|
6,57
|
8,71
|
9,57
|
10,86
|
9
|
4
|
P3
|
2
|
4
|
4,85
|
6,43
|
7,14
|
7,43
|
8,86
|
9
|
5
|
P4
|
2
|
4
|
5,42
|
7,43
|
8
|
9
|
10
|
10
|
6
|
P5
|
2
|
4
|
5
|
6
|
7
|
7,57
|
9,57
|
9,5
|
7
|
P6
|
2
|
4
|
4,57
|
5,57
|
7,14
|
7,14
|
8,43
|
5
|
Ket : Jika ada selisih dengan minggu sebelumnya
berarti ada daun yang gugur
Pada pengamatan daun dilakukan
setiap hari, daun yang mati atau gugur yaitu daun yang rusak dengan 50% dari
helai daun. Daun yang rusak ini karena sudah rusak sel hijau daunnya yaitu
klorofil karena daun tidak bisa berfotosintesis lagi dan dikatakan mati atau
rusak.
Tabel 4. Waktu Berbunga (
vegetatif maksimum)
Perlakuan
|
Minggu terakhir
(28 mei )
|
P0
|
Sudah
|
P1
|
Belum
|
P2
|
Sudah
|
P3
|
Sudah
|
P4
|
Sudah
|
P5
|
Sudah
|
P6
|
Sudah
|
Pengamatan dilakukan pada tanaman sudah
cukup besar dan tanda tanda peertumbuhan vegetatif sudah berhenti. Pengamatan
waktu berbunga merupakan tanda bahwa tanaman telah mencapai vegetatif maksimum.
Waktu berbunga ditandai dengan sudah terbentuknya bunga jantan.
E.
Analisis Statistik (RAL)
Perhitungan Analisis Keragaman Pengaruh Berbagai Takaran
Pupuk N, P Dan K Terhadap Pertumbuhan Tanaman Jagung di Tanah Gambut
Dari hasil
data tiga kelompok (4 (Ulangan I, 5 (Ulangan II) dan 6 (Ulangan III)), maka
diperoleh:
Tabel . Tinggi Tanaman jagung (cm)
Perlakuan
|
Ulangan
|
Total
|
Rerata
|
I
|
II
|
III
|
p0
|
112
|
175
|
112,5
|
399,5
|
133,167
|
p1
|
105
|
143
|
105
|
353
|
117,67
|
p2
|
170
|
162
|
112
|
444
|
148
|
p3
|
125
|
150
|
60
|
335
|
111,67
|
p4
|
165
|
159,5
|
126,5
|
451
|
150,33
|
p5
|
149
|
160,2
|
81
|
390,2
|
130,067
|
p6
|
85
|
145,3
|
91,5
|
321,8
|
107,26
|
|
2.694,5
|
128,31
|
Perhitungan
analisis keragaman pengaruh pemberian pupuk N, P dan K terhadap tinggi tanaman
jagung adalah sebagai berikut :
FK =
(Y..)2 / rt
= (2.694,5)2/3.7 = 345.730,0119
JK total = S Yij2 - FK
=
1122+1172+112,52+.....+91,52
FK = 21.810,118
JK perlakuan = (S Yi.2 / r ) - FK
=
(339,52+3532+....+321,82)/4) – FK = 5.197,498
JK galat =
JKT - JKP
=
21.810,118 -
5.197,498 = 16.612,62
DB total = rt - 1
=
3.7 – 1 = 20
DB Perlakuan = t – 1
=
7 – 1 = 6
DB Galat =
t(r-1) atau (db t - db p)
=
20 – 6 = 14
KT Perlakuan = JKP / dbp
=
5.197,498 /
6 = 866,25
KT galat = JKG / db g
=
16.612,62 / 14 = 1.186,616
F hit = KTP / KTG
= 866,25 / 1186,616 = 0,73
KK =
=
=
26,85 %
Tabel
11. Hasil Analisis Keragaman
Pengaruh
Pemberian Pupuk N, P dan K Terhadap Data Tinggi Tanaman Jagung
Sumber Keragaman
(SK)
|
Derajad Bebas (DB)
|
Jumlah Kuadrat
(JK)
|
Kuadrat Tengah
(KT)
|
F.Hit
|
F tabel
|
5%
|
1%
|
Perlakuan
Galat
|
6
14
|
5.197,498
16.612,62
|
866,25
1186,616
|
0,73tn
|
2,85
|
4,46
|
Total
|
20
|
21.810,118
|
|
KK = 26,85 %
Keterangan
:
Tanda tn tidak berbeda pada α 0,05 dan 0,01 dan disebut tidak nyata
(F.Hit < F. Tabel 0,05 dan 0.01)
Kesimpulan
dari hasil anova diatas bahwa pemberian beberapa dosis pupuk N, P dan K tidak
memberi pengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi tanaman jagung pada tanah
gambut.
Tabel
. Diameter Batang tanaman jagung (cm)
perlakuan
|
Ulangan
|
Total
|
Rerata
|
I
|
II
|
III
|
p0
|
1,2
|
2,2
|
1,2
|
4,6
|
1,53
|
p1
|
1,3
|
1,83
|
1,4
|
4,53
|
1,51
|
p2
|
2,2
|
2,34
|
1,5
|
6,04
|
2,01
|
p3
|
1,51
|
1,82
|
1,22
|
4,55
|
1,52
|
p4
|
2,04
|
1,9
|
1,44
|
5,38
|
1,79
|
p5
|
2,1
|
2,12
|
1,2
|
5,42
|
1,80
|
p6
|
1,1
|
1,91
|
1,1
|
4,11
|
1,37
|
|
34,63
|
1,65
|
Perhitungan
analisis keragaman pengaruh pemberian pupuk N, P dan K terhadap diameter batang
tanaman jagung adalah sebagai berikut :
FK = (Y..)2 / rt
=
(34,63)2/3.7 = 57,11
JK total = S Yij2 - FK
=
1,22+2,22+1,22+.....+2,22
FK = 3,517
JK perlakuan = (S Yi.2 / r ) - FK
=
(2,42+2,72+....+2,22)/4) – FK = 0,919
JK galat =
JKT - JKP
=
3,517- 0,919 = 2,597
DB total = rt - 1
=
3.7 – 1 = 20
DB Perlakuan = t – 1
=
7 – 1 = 6
DB Galat =
t(r-1) atau (db t - db p)
=
20 – 6 = 14
KT Perlakuan = JKP / dbp
=
0,919 / 6 =
0,153
KT galat = JKG / db g
=
2,597/ 14 = 0,186
F hit = KTP / KTG
= 0,153 / 0
,186 = 0,82
KK =
=
=
26,14 %
Tabel
. Hasil Analisis Keragaman
Pengaruh Pemberian
Pupuk N, P dan K Terhadap Diameter Batang Tanaman Jagung
Sumber Keragaman
(SK)
|
Derajad Bebas (DB)
|
Jumlah Kuadrat
(JK)
|
Kuadrat Tengah
(KT)
|
F.Hit
|
F tabel
|
5%
|
1%
|
Perlakuan
Galat
|
6
14
|
0,919
2,597
|
0,153
0,186
|
0,82tn
|
2,85
|
4,46
|
Total
|
20
|
3,517
|
|
KK = 26,14
%
Keterangan
:
Tanda tn tidak berbeda pada α 0,05 dan 0,01 dan disebut tidak nyata
(F.Hit < F. Tabel 0,05 dan 0.01)
Kesimpulan
dari hasil anova diatas bahwa pemberian beberapa dosis pupuk N, P dan K tidak
memberi pengaruh nyata terhadap pertumbuhan diameter batang tanaman jagung pada
tanah gambut.
Tabel
. Jumlah daun tanaman jagung (Helai)
Perlakuan
|
Ulangan
|
Total
|
Rerata
|
I
|
II
|
III
|
p0
|
6
|
9
|
10
|
25
|
8,33
|
p1
|
7
|
9
|
11
|
27
|
9
|
p2
|
9
|
9
|
13
|
31
|
10,33
|
p3
|
9
|
9
|
10
|
28
|
9,33
|
p4
|
10
|
10
|
10
|
30
|
10
|
p5
|
9
|
9
|
9
|
27
|
9
|
p6
|
5
|
9
|
9
|
23
|
7,67
|
|
191
|
9,095
|
Perhitungan
analisis keragaman pengaruh pemberian pupuk N, P dan K terhadap tinggi tanaman
jagung adalah sebagai berikut :
FK =
(Y..)2 / rt
= (191)2/3.7 = 1.737,19
JK total = S Yij2 - FK
=
62+92+102+.....+92
FK = 53,81
JK perlakuan = (S Yi.2 / r ) - FK
=
(252+272+....+232)/4) – FK = 15,143
JK galat =
JKT - JKP
=
53,81 –
15,143 = 38,667
DB total = rt - 1
=
3.7 – 1 = 20
DB Perlakuan = t – 1
=
7 – 1 = 6
DB Galat =
t(r-1) atau (db t - db p)
=
20 – 6 = 14
KT Perlakuan = JKP / dbp
=
15,143 / 6 =
2,524
KT galat = JKG / db g
=
38,667 / 14 = 2,762
F hit = KTP / KTG
= 2,524 / 2,762 = 0,914
KK =
=
=
18,27 %
Tabel.
Hasil Analisis Keragaman
Pengaruh Pemberian Pupuk N, P dan K Terhadap Jumlah
Daun Tanaman Jagung
Sumber Keragaman
(SK)
|
Derajad Bebas (DB)
|
Jumlah Kuadrat
(JK)
|
Kuadrat Tengah
(KT)
|
F.Hit
|
F tabel
|
5%
|
1%
|
Perlakuan
Galat
|
6
14
|
15,143
38,667
|
2,524
2,762
|
0,914tn
|
2,85
|
4,46
|
Total
|
20
|
53,81
|
|
|
|
|
KK
= 18,27%
Keterangan
:
Tanda tn tidak berbeda pada α 0,05 dan 0,01 dan disebut tidak nyata
(F.Hit < F. Tabel 0,05 dan 0.01)
Kesimpulan
dari hasil anova diatas bahwa pemberian beberapa dosis pupuk N, P dan K tidak
memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan jumlah daun tanaman jagung pada
tanah gambut.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil (dalam bentuk tabel)
Berdasarkan
hasil praktikum pupuk dan pemupukan yaitu mengamati pengaruh berbagai takaran
pupuk N, P dan K terhadap pertumbuhan tanaman jagung di tanah gambut, maka
diperoleh data antara lain:
1.
Data Kelompok 4
Tabel 4. Tinggi tanaman (cm)
No
|
Perlakuan
|
Rerata
Pengamatan Minggu ke
|
M-1
|
M-2
|
M-3
|
M-4
|
M-5
|
M-6
|
M-7
|
M-8
|
1
|
P0
|
18,5
|
35
|
39,33
|
58,16
|
72,79
|
90,66
|
91,03
|
111,05
|
2
|
P1
|
13
|
28,5
|
30,56
|
41,3
|
63
|
77,83
|
88,06
|
103
|
3
|
P2
|
13
|
31,5
|
33,5
|
55,14
|
85,8
|
123,2
|
157,71
|
169
|
4
|
P3
|
20,5
|
28
|
40,94
|
62,27
|
77,94
|
100,1
|
116,93
|
124,5
|
5
|
P4
|
14,5
|
33,7
|
41,83
|
57,07
|
90,91
|
126,23
|
152,21
|
162,5
|
6
|
P5
|
12,5
|
21
|
31,77
|
52,73
|
76,11
|
103,64
|
133,71
|
147
|
7
|
P6
|
8
|
16
|
23,14
|
36,07
|
48,35
|
61,1
|
75,71
|
83,5
|
Tabel
5. Diameter batang (cm)
No
|
Perlakuan
|
Rerata
Pengamatan Minggu ke
|
M-1
|
M-2
|
M-3
|
M-4
|
M-5
|
M-6
|
M-7
|
M-8
|
1
|
P0
|
0,2
|
0,3
|
0,46
|
0,67
|
0,85
|
1,19
|
1,2
|
1,2
|
2
|
P1
|
0,2
|
0,2
|
0,39
|
0,60
|
0,75
|
1,01
|
1,2
|
1,3
|
3
|
P2
|
0,3
|
0,3
|
0,42
|
0,58
|
1,2
|
1,75
|
1,98
|
2,2
|
4
|
P3
|
0,2
|
0,2
|
0,41
|
0,63
|
0,96
|
1,31
|
1,41
|
1,5
|
5
|
P4
|
0,3
|
0,3
|
0,55
|
1,1
|
1,26
|
1,75
|
1,88
|
1,97
|
6
|
P5
|
0,3
|
0,3
|
0,45
|
0,7
|
1,13
|
1,51
|
1,9
|
2,1
|
7
|
P6
|
0,27
|
0,3
|
0,38
|
0,7
|
0,81
|
1
|
1,1
|
1,1
|
Tabel 6.
Jumlah Daun (Helai)
No
|
Perlakuan
|
Rerata
Pengamatan Minggu Ke
|
M-1
|
M-2
|
M-3
|
M-4
|
M-5
|
M-6
|
M-7
|
M-8
|
1
|
P0
|
2
|
4
|
4,85
|
6,42
|
7
|
7
|
8,57
|
7
|
2
|
P1
|
2
|
2
|
3,85
|
4,71
|
6,86
|
6,86
|
8,43
|
7,5
|
3
|
P2
|
1
|
3
|
4,42
|
6,57
|
8,71
|
9,57
|
10,86
|
9
|
4
|
P3
|
2
|
4
|
4,85
|
6,43
|
7,14
|
7,43
|
8,86
|
9
|
5
|
P4
|
2
|
4
|
5,42
|
7,43
|
8
|
9
|
10
|
10
|
6
|
P5
|
2
|
4
|
5
|
6
|
7
|
7,57
|
9,57
|
9,5
|
7
|
P6
|
2
|
4
|
4,57
|
5,57
|
7,14
|
7,14
|
8,43
|
5
|
Ket : Jika ada selisih dengan minggu sebelumnya
berarti ada daun yang gugur
2.
Data Kelompok
Tabel 7. Data kelompok 4 (Pengamatan
terakhir)
No
|
Perlakuan
|
Tinggi
Tanaman
|
Diameter
Batang
|
Jumlah
Daun
|
1
|
P0
|
112
|
1,2
|
6
|
2
|
P1
|
105
|
1,3
|
7
|
3
|
P2
|
170
|
2,2
|
9
|
4
|
P3
|
125
|
1,51
|
9
|
5
|
P4
|
165
|
2,04
|
10
|
6
|
P5
|
149
|
2,1
|
9
|
7
|
P6
|
85
|
1,1
|
5
|
Tabel 8. Data Kelompok 5 (Pengamatan
terakhir)
No
|
Perlakuan
|
Tinggi
Batang
|
Diameter
Batang
|
Jumlah
Daun
|
1
|
P0
|
175
|
2,2
|
9
|
2
|
P1
|
143
|
1,83
|
9
|
3
|
P2
|
162
|
2,34
|
9
|
4
|
P3
|
150
|
1,82
|
9
|
5
|
P4
|
159,5
|
1,9
|
10
|
6
|
P5
|
160,2
|
2,12
|
9
|
|
|
|
|
|
7
|
P6
|
175
|
2,2
|
9
|
Tabel 9. Data Kelompok 6 (Pengamatan terakhir)
No
|
Perlakuan
|
Tinggi
Batang
|
Diameter
Batang
|
Jumlah
Daun
|
1
|
P0
|
112,5
|
1,20
|
10
|
2
|
P1
|
105
|
1,40
|
11
|
3
|
P2
|
112
|
1,50
|
13
|
4
|
P3
|
60
|
1,22
|
10
|
5
|
P4
|
126,5
|
1,44
|
10
|
6
|
P5
|
81
|
1,20
|
9
|
7
|
P6
|
91,5
|
1,10
|
9
|
3.
Data 3 kelompok(4,5,6)
Tinggi tanaman
perlakuan
|
Ulangan
|
Jumlah
|
rerata
|
4
|
5
|
6
|
p0
|
112
|
175
|
112.5
|
399.5
|
133.17
|
p1
|
105
|
143
|
105
|
353
|
117.67
|
p2
|
170
|
162
|
112
|
444
|
148.00
|
p3
|
125
|
150
|
60
|
335
|
111.67
|
p4
|
165
|
159.5
|
126.5
|
451
|
150.33
|
p5
|
149
|
160.2
|
81
|
390.2
|
130.07
|
p6
|
85
|
145.3
|
91.5
|
321.8
|
107.27
|
Jumlah daun
perlakuan
|
Ulangan
|
Jumlah
|
rereta
|
4
|
5
|
6
|
p0
|
6
|
9
|
10
|
25
|
8.33
|
p1
|
7
|
9
|
11
|
27
|
9.00
|
p2
|
9
|
9
|
13
|
31
|
10.33
|
p3
|
9
|
9
|
10
|
28
|
9.33
|
p4
|
10
|
10
|
10
|
30
|
10.00
|
p5
|
9
|
9
|
9
|
27
|
9.00
|
p6
|
5
|
9
|
9
|
23
|
7.67
|
Diameter batang
perlakuan
|
Ulangan
|
Jumlah
|
rerata
|
4
|
5
|
6
|
p0
|
1.2
|
2.2
|
1.2
|
4.6
|
1.53
|
p1
|
1.3
|
1.83
|
1.4
|
4.53
|
1.51
|
p2
|
2.2
|
2.34
|
1.5
|
6.04
|
2.01
|
p3
|
1.51
|
1.82
|
1.22
|
4.55
|
1.52
|
p4
|
2.04
|
1.9
|
1.44
|
5.38
|
1.79
|
p5
|
2.1
|
2.12
|
1.2
|
5.42
|
1.81
|
p6
|
1.1
|
1.91
|
1.1
|
4.11
|
1.37
|
HASIL ANALISIS RAL
Tabel
. Hasil Analisis Keragaman
Pengaruh
Pemberian Pupuk N, P dan K Terhadap Data Tinggi Tanaman Jagung
Sumber Keragaman
(SK)
|
Derajad Bebas (DB)
|
Jumlah Kuadrat
(JK)
|
Kuadrat Tengah
(KT)
|
F.Hit
|
F tabel
|
5%
|
1%
|
Perlakuan
Galat
|
6
14
|
5.197,498
16.612,62
|
866,25
1186,616
|
0,73tn
|
2,85
|
4,46
|
Total
|
20
|
21.810,118
|
|
KK = 26,85 %
Keterangan
:
Tanda tn tidak berbeda pada α 0,05 dan 0,01 dan disebut tidak nyata
(F.Hit < F. Tabel 0,05 dan 0.01)
Kesimpulan
dari hasil anova diatas bahwa pemberian beberapa dosis pupuk N, P dan K tidak
memberi pengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi tanaman jagung pada tanah
gambut.
Tabel.
Hasil Analisis Keragaman
Pengaruh Pemberian Pupuk
N, P dan K Terhadap Diameter Batang Tanaman Jagung
Sumber Keragaman
(SK)
|
Derajad Bebas (DB)
|
Jumlah Kuadrat
(JK)
|
Kuadrat Tengah
(KT)
|
F.Hit
|
F tabel
|
5%
|
1%
|
Perlakuan
Galat
|
6
14
|
0,919
2,597
|
0,153
0,186
|
0,82tn
|
2,85
|
4,46
|
Total
|
20
|
3,517
|
|
KK = 26,14
%
Keterangan
:
Tanda tn tidak berbeda pada α 0,05 dan 0,01 dan disebut tidak nyata
(F.Hit < F. Tabel 0,05 dan 0.01)
Kesimpulan
dari hasil anova diatas bahwa pemberian beberapa dosis pupuk N, P dan K tidak
memberi pengaruh nyata terhadap pertumbuhan diameter batang tanaman jagung pada
tanah gambut.
Tabel.
Hasil Analisis Keragaman
Pengaruh Pemberian Pupuk N, P dan K Terhadap Jumlah
Daun Tanaman Jagung
Sumber Keragaman
(SK)
|
Derajad Bebas (DB)
|
Jumlah Kuadrat
(JK)
|
Kuadrat Tengah
(KT)
|
F.Hit
|
F tabel
|
5%
|
1%
|
Perlakuan
Galat
|
6
14
|
15,143
38,667
|
2,524
2,762
|
0,914tn
|
2,85
|
4,46
|
Total
|
20
|
53,81
|
|
|
|
|
KK
= 18,27%
Keterangan
:
Tanda tn tidak berbeda pada α 0,05 dan 0,01 dan disebut tidak nyata
(F.Hit < F. Tabel 0,05 dan 0.01)
Kesimpulan
dari hasil anova diatas bahwa pemberian beberapa dosis pupuk N, P dan K tidak
memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan jumlah daun tanaman jagung pada
tanah gambut.
A.
Pembahasan
Dari semua analisis Ral yang kami lakukan nilai
F hitung < F tabel maka diantara
perlakuan tidak ada perbedaan yang nyata (non signifikan), maka tidak perlu
dilakukan uji beda. Dapat dilihat pada hasil analisis RAL diatas.
Ulangan
|
Perlakuan
|
N(Urea)/gr
|
P(SP-36)/gr
|
K(KCL)/gr
|
Kapur/gr
|
P0
|
0
|
0
|
0
|
80
|
P1
|
8
|
0
|
2
|
80
|
P2
|
8
|
1,2
|
2
|
80
|
P3
|
8
|
2,4
|
2
|
80
|
P4
|
8
|
3,6
|
2
|
80
|
P5
|
8
|
4,8
|
2
|
80
|
P6
|
8
|
6
|
2
|
80
|
Dari table perlakuan diatas
dapat dilihat bahwa perlakuan dilakukan dengan membandaingkan dosis pupuk,
hasil dari kelompok 4 yaitu
No
|
Perlakuan
|
Tinggi
Tanaman
|
Diameter
Batang
|
Jumlah
Daun
|
1
|
P0
|
112
|
1,2
|
6
|
2
|
P1
|
105
|
1,3
|
7
|
3
|
P2
|
170
|
2,2
|
9
|
4
|
P3
|
125
|
1,51
|
9
|
5
|
P4
|
165
|
2,04
|
10
|
6
|
P5
|
149
|
2,1
|
9
|
7
|
P6
|
85
|
1,1
|
5
|
Dari table diatas pada variable tinggi tanaman P2 menunjukan hasil yang
paing besar dan P6 adalah hasil yang paling kecil, pada variable diameter batang P2,P5, dan P4
menunjukan hasil yang paling besar dengan perbandingan yang kecil, dan hasil
yang terkecil adalah P6. Dan pada variable jumlah daun P4 menunjukan hasil yang
paling besar dan P6 menunjukan hasil yang paling kecil. Dari analisis table di
atas menurut saya perlakuan P2 bagus dalam pertumbuhan namun, pada pengamatan
berbunga P2 belum muncul bunga. Dan perlakuan yang kurang berpengaruh pada
tanaman yaitu P6 dimana setiap variable menunjukan hasil yang kecil. Hal ini
menurut saya mungkin karena pemberian dosis pupuk P6 yang terlalu besar.
Tinggi tanaman
perlakuan
|
Ulangan
|
Jumlah
|
rerata
|
4
|
5
|
6
|
p0
|
112
|
175
|
112.5
|
399.5
|
133.17
|
p1
|
105
|
143
|
105
|
353
|
117.67
|
p2
|
170
|
162
|
112
|
444
|
148.00
|
p3
|
125
|
150
|
60
|
335
|
111.67
|
p4
|
165
|
159.5
|
126.5
|
451
|
150.33
|
p5
|
149
|
160.2
|
81
|
390.2
|
130.07
|
p6
|
85
|
145.3
|
91.5
|
321.8
|
107.27
|
Jumlah daun
perlakuan
|
Ulangan
|
Jumlah
|
rereta
|
4
|
5
|
6
|
p0
|
6
|
9
|
10
|
25
|
8.33
|
p1
|
7
|
9
|
11
|
27
|
9.00
|
p2
|
9
|
9
|
13
|
31
|
10.33
|
p3
|
9
|
9
|
10
|
28
|
9.33
|
p4
|
10
|
10
|
10
|
30
|
10.00
|
p5
|
9
|
9
|
9
|
27
|
9.00
|
p6
|
5
|
9
|
9
|
23
|
7.67
|
Diameter batang
perlakuan
|
Ulangan
|
Jumlah
|
rerata
|
4
|
5
|
6
|
p0
|
1.2
|
2.2
|
1.2
|
4.6
|
1.53
|
p1
|
1.3
|
1.83
|
1.4
|
4.53
|
1.51
|
p2
|
2.2
|
2.34
|
1.5
|
6.04
|
2.01
|
p3
|
1.51
|
1.82
|
1.22
|
4.55
|
1.52
|
p4
|
2.04
|
1.9
|
1.44
|
5.38
|
1.79
|
p5
|
2.1
|
2.12
|
1.2
|
5.42
|
1.81
|
p6
|
1.1
|
1.91
|
1.1
|
4.11
|
1.37
|
Dari tabel diatas variabel
tinggi tanaman perbandingan rata rata setiap perlaakuan, peerlakuan p4 dan p2 menunjukan hasil yang
paling besar dan perbandingan yang kecil sedangkan hasil yang paling kecil
yaitu p6.
Pada variabel jumlah daun p4
dan p2 menunjukan hasil yang paling besar dengan perbandingan yang kecil.
Sedangkan hasil yang paling kecil adalah p6.
Pada variabel diameter batang p2 dengan hasil yang paling
besar yaitu2.01 dan hasil yang paling kcil yaitu p6.
Dari perbandingan itu perlakuan
p6 adalah perlakuan yang kurang baik menurut saya dikarenakan dosis yang
terlalu besar.
B.
Penutup
1. Kesimpulan
-
Pengaruh
pupuk terhadap pertumbuhan jagung ini sangat memberikan dampak yang besar
terhadap pertumbuhan jagung, karena pupuk ini mengandung beberapa unsur hara
yangg diperlukan oleh tanaman seperti Nitrogen, Posfor dan Kalium
-
Pupuk
nitrogen berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman secara vegetative yaitu
mencakup tinggi tanaman, diameter tanaman, warna daun & jumlah daun
-
dosis pupuk berpengaruh pada pertumbuhan tanamam
-
perlakuan perbandingan pupuk Posfor pada analisis
RAL tidak berperngaruh nyata
2. Saran
-
Buatkan diktat
DAFTAR
PUSTAKA
Kawulusan, H. 1995. Fosfortersedia,
pertumbuhandanserapanharaolehjagungpadaAndosol yang dipupuk. P. J. Eugenia
2: 124-133.
Musa, N. 1999.Hasiljagung (Zea mays
L.) padawaktutanamdanpemupukanfosfor yang berbeda. J. Solum. 1: 43-52.
Minardi, S. 2002. Kajianterhadappengaturanpemberian
air dandosis TSP dalammempengaruhikeragaantanamanjagung (Zea mays L.) di Tanah
Vertisol. J. Sains Tanah. 2 (1): 35-40.
Nurdin. 2005. Pertumbuhandanproduksijagung
(Zea mays L.) VaritaSLamuru yang dipupukPhonskadosisberbeda di MooduKecamatan
Kota Timur Kota Gorontalo. J. Eugenia 11: 396-400.
Putu
Budi Adnyana, Ida Bagus Putu Arnyana, 2000, Morfologi Tumbuhan, Sekolah Tinggi
Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Singaraja.
Setyamidjaya,
Djoehana. 2000. Teh Budidaya dan Pengolahan Persiapan. Kanisius. Yogyakarta.
Tjitrosoepomo,
Gembong, 1985, Morfologi Tumbuhan, 81-82, 126, 236-237, Gajah Mada University
Press, Yogyakarta
Widyastuti, Yustina E. dan
Adisarwanto T. 2002. Meningkatkan Produksi Jagung di Lahan Kering, Sawah, dan
Pasang Surut. PT. Penebar Swadaya. Jakarta
Dokumentasi
Penyiapan Media
Tanaman jagung yang mulai tumbuh
pengukuran
Tanaman berbunga(vegetativ
maksimum)