Translate

Jumat, 28 Oktober 2016

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEM PRODUKSI TANAMAN PADA LAHAN BASAH DAN GAMBUT BUDIDAYA CABE

LAPORAN PRAKTIKUM
SISTEM PRODUKSI TANAMAN PADA LAHAN BASAH DAN GAMBUT
BUDIDAYA CABE


KELOMPOK 1
MARIA ANDANI SAFITRI                                   C1011131109
RAFI ADISTA PUTRA                              C1011131125
MUH DUWI LESMANA                            C1011131113
BANA RAHARJO                           C1011131130
Description: Description: F:\logo untan\2.png



AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2016
DAFTAR ISI 

BAB 1

PENDAHULUAN

A.   Latar belakang

Cabe termasuk dalam taman perdu, famili terong-terongan, denangan nama Capsicum annum.Berasal dari  Peru (benua Amerika)  dan menyebar ke benua Amerika, Eropa dan Asia termasuk Indonesia. Tanaman cabe dikenalterdiri dari banyak varietas ( diperkirakan terdiri dari 20 species yang sebagian besar hidup di negara asalnya).Banyak ragam tipe pertumbuhan dan bentuk buahnya.Umumnya yg dikenal : Cabe besar, Cabe keriting,Cabe rawit, paprika.
Tanaman cabe memiliki nilai  kandungan gizi dan vitamin yang cukup tinggimeliputi kalori, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, vitamin A,B1, dan vitamin C.  Karena kandungan gizi dan vitamin yang cukup tinggi itu tanaman cabe banyak di gunakan untuk keperluan  rumah tangga dan  untuk industri ( bumbu masakan, makanan dan obat-obatan atau jamu).
Cabe mempunyai peluang bisnis yang bagus karena kebutuhan yang meningkat (untuk rumah tangga, industri), pertambahan penduduk, pengembangan industri olahan. Karena itu peluang bisnis cabe menjadi terbuka luas untuk usaha peningkatan produksi ( peningkatan pendapatan petani). Peningkatan produksi ini dilakukan dengan cara melakukan perbaikan teknik budidaya secara intensif di lahan perkebunan.Yang paling utama dan penting dalam menanam cabe adalah dasaran. Yang dimaksud dasaran di sini adalah tanah yang akan digunakan media penanaman.
Tanah yang akan di tanami cabe harus berada pada pH 5-6, gembur, dan kaya humus.  Jika tanah masih kondisi asam atau sering ditanami tanaman yang satu famili, maka penting untuk penambahan kapur pertanian atau dolomite untuk meningkatkan pH. Penambahan kapur untuk meningkatkan pH sudah merupakan penyelesaian 50% terhadap kendala kesuburan tanah, selain itu juga penambahan dolomite dapat memberikan unsur kalsium di tanah yang sangat dibutuhkan tanaman saat berbunga nanti. Sangat dianjurkan menanam cabe menggunakan plastic mulsa hitam perak dengan posisi warna hitam di bawah dan warna perak di atas.

B.   Tujuan

Untuk  mengetahui pertumbuhan tanaman cabai dan membandingkan pertumbuhan cabai yang di pangkas dan yang tidak dipangkas.



BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

A.   Sekilas Tentang Cabai (Capsicum annuum L.)

Cabai (Capsicum annuum L. ) adalah tanaman yang termasuk ke dalam keluarga tanaman Solanaceae. Cabai mengandung senyawa kimia yang dinamakan capsaicin (8-methyl-N-vanillyl-6-nonenamide). Selain itu, terkandung juga berbagai senyawa yang mirip dengan capsaicin, yang dinamakan capsaicinoids. Sedangkan Buah cabai merupakan buah buni dengan bentuk garis lanset, merah cerah, dan rasanya pedas. Daging buahnya berupa keping-keping tidak berair. Bijinya berjumlah banyak serta terletak di dalam ruangan buah (Setiadi, 2008).
Tanaman cabai dapat tumbuh subur di berbagai ketinggian tempat mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi tergantung varietasnya. Sebagian besar sentra produsen cabai berada didataran tinggi dengan ketinggian antara 1.000-1250 meter dari permukaan laut. Walaupun di dataran rendah yang panas kadang-kadang dapat juga diperoleh hasil yang memuaskan, namun di daerah pegunungan buahnya dapat lebih besar dan manis. Rata-rata suhu yang baik adalah antara 210 - 280 C. suhu udara yang lebih tinggi menyebabkan buahnya sedikit (Tim Bina Karya Tani, 2009).
Tanaman yang berbuah pedas ini digunakan secara luas sebagai bumbu masakan di seluruh dunia. Tanaman cabai pada mulanya diketahui berasal dari Meksiko, dan menyebar di negara-negara sekitarnya di Amerika Selatan dan Amerika Tengah pada sekitar abad ke-8. Dari Benua Amerika kemudian menyebar ke benua Eropa diperkirakan pada sekitar abad ke-15. Kini tanaman cabai sudah menyebar ke berbagai negara tropik terutama di benua Asia, dan Afrika (Tim Bina Karya Tani, 2009).
Secara umum cabai memiliki banyak kandungan gizi dan vitamin diantaranya Kalori, Protein, Lemak, Karbohidrat, Kalsium, Vitamin A, B, dan Vitamin C. selain digunakan untuk keperluan rumah tangga, cabai juga dapat digunakan untuk keperluan industri diantaranya, Industri bumbu masakan, Industri makanan, Industri obat-obatan atau jamu (Setiadi, 2008).
Di Indonesia pengembangan budidaya tanaman cabai mendapat prioritas perhatian sejak tahun 1961. Tanaman cabai menempati urutan atas dalam skala prioritas penelitian pengembangan garapan Puslitbang Hortikurtura di Indonesia bersama 17 jenis sayuran komersial lainnya (Tim Bina Karya Tani, 2009). Dan daerah-daerah di Indonesia yang merupakan sentra produksi cabai mulai dari urutan yang paling besar adalah daerah-daerah di jawa timur, padang, Bengkulu dan lain-lain sebagainya. Menurut Pickersgill (1989) terdapat lima spesies cabai, yaitu Capsicum annuum, Capsicum frutescens, Capsicum chinense, Capsicum bacctum, dan Capsicum pubescens. Di antara kelima spesies tersebut yang memiliki potensi ekonomis ialah C. annuum dan C. frutescens (Santika,1999).

B.   Klasifikasi Tanaman Cabai

Klasifikasi tanaman cabai sebagai berikut :
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Subkelas : Metachlamidae
Ordo : Tubiflorae
Famili : Solanaceae
Genus : Capsicum
Spesies : Capsicum annuum L.
Ada dua spesies cabai yang terkenal yaitu cabai besar atau cabai merah dan cabai kecil atau cabai rawit. Cabai yang termasuk ke dalam cabai besar atau cabai merah adalah paprika, cabai manis, dan lain-lain. Dan cabai yang termasuk ke dalam golongan cabai kecil adalah cabai rawit, cabai kancing, cabai udel, dan cabai yang biasanya dipelihara sebagai tanaman hias. Pada umumnya cabai kecil ini lebih panjang umurnya, lebih tahan terhadap hujan, dan rasanya lebih pedas (Tim Bina Karya Tani, 2009).
Cabai merupakan tanaman musiman dengan tinggi dapat mencapai satu meter, daun berwarna hijau tua, berbentuk bujur telur dan bunga soliter dengan daun bunga putih. Tanaman cabai keriting merupakan tumbuhan perdu yang berkayu, tumbuh di daerah dengan iklim tropis. Tanaman ini dapat tumbuh dan berkembang biak didataran tinggi maupun dataran rendah (Setiadi, 2008).

C.   Morfologi Tanaman Cabai

1)      Akar
Perakaran tanaman cabai merupakan akar tunggang yang terdiri atas akar utama (primer) dan akar laterl (sekunder), dari akar lateral keluar serabut-serabut akar (akar tersier). Panjang akar primer berkisar 35-50 cm. Akar lateral menyebar dengan panjang berkisar 35-45 cm (Kurnianti, 2010).
2)      Batang
Batang utama tanaman cabai tegak lurus dan kokoh, tinggi sekitar 30-40 cm, dan diameter batang sekitar 1,5-3,0 cm. Batang utama berkayu dan berwarna cokelat kehijauan. Pada budidaya cabai intensif pembentukan kayu pada batang utama mulai terjadi pada umur 30-40 hari setelah tanam (HST). Pada setiap ketiak daun akan tumbuh tunas baru yang dimulai pada umur 10-15 HST. Namun pada budidaya cabai intensif, tunas-tunas baru itu haru dirempel. Pertambahan panjang tanaman cabai diakibatkan oleh pertumbuhan kuncup secara terus-menerus. Pertumbuhan seperti ini disebut pertumbuhan simpodial. Cabang primer akan membentuk percabangan 8 sekunder dan cabang sekunder membentuk percabangan tersier terus- menerus. Pada budidaya cabai secara intensif akan terbentuk sekitar 11-17 percabangan pada satu periode pembungaan (Kurnianti, 2010).
3)      Daun
Daun tanaman cabai bervariasi menurut spesies dan varietasnya. Ada daun yang berbentuk oval, lonjong, bahkan ada yang Ian-set. Warna permukaan daun bagian atas biasanya hijau muda, hijau, hijau tua, bahkan hijau kebiruan. Sedangkan permukaan daun pada bagian bawah umumnya berwarna hijau muda, hijau pucat atau hijau. Permukaan daun cabai ada yang halus adapula yang berkerut-kerut. Ukuran panjang daun cabai antara 3-11 cm, dengan lebar antara 1-5 cm (Kurnianti, 2010).
4)      Bunga dan Buah
Seperti umumnya famili Solanaceae, bunga tanaman cabai berbentuk terompet (hyporcrateriformis). Bunga tanaman cabai tergolong bunga yang lengkap (completus) karena terdiri dari kelopak bunga (calyx), mahkota bunga (corrola), benang sari (stamen), dan putik (pistillium). Alat kelamin jantan (benang sari) dan alat kelamin betina (putik) pada tanaman cabai terletak dalam satu bunga sehingga disebut berkelamin dua (hermaphroditus). Bunga cabai tumbuh di percabangan (ketiak daun), terdiri dari 6 helai kelopak bunga berwarna hijau dan 5 helai mahkota bunga berwarna putih. Bunga tanaman cabai merupakan bunga sempuma, artinya dalam satu tanaman terdapat bunga jantan dan bunga betina. Pemasakan bunga jantan dan bunga betina dalam waktu yang sama (atau hampir sama), sehingga tanaman dapat melakukan penyerbukan sendiri. Namun untuk mendapatkan hasil buah yang lebih baik, penyerbukan silang lebih diutamakan. Karena itu, tanaman cabai yang 9 ditanam di lahan dalam jumlah yang banyak, hasilnya lebih baik dibandingkan tanaman cabai yang ditanam sendirian. (Kurnianti, 2010).
Tangkai putik berwarna putih dengan kepala putik berwarna kuning kehijauan, dalam satu bunga terdapat satu putik dan enam benang sari. Tangkai sari berwarna putih dengan kepala sari berwarna biru keunguan. Setelah penyerbukan akan terjadi pembuahan. Saat pembentukan buah, mahkota bunga rontok tetapi kelopak bunga tetap menempel pada buah. Bentuk buah bervariasi, tergantung pada varietasnya (Kurnianti, 2010).

D.   Syarat Tumbuh

Pada umumnya cabe dapat ditanam pada dataran rendah sampai ketinggian 2000 meter dpl, serta menyukai daerah kering, dan ditemukan pula pada ketinggian 0,5-1.250 m dpl. Cabe dapat beradaptasi dengan baik pada temperatur 24 – 27 derajat Celsius dengan kelembaban yang tidak terlalu tinggi. Tanaman cabe dapat ditanam pada tanah sawah maupun tegalan yang gembur, subur, tidak terlalu liat dan cukup air. Permukaan tanah yang paling ideal adalah datar dengan matahari penuh dan tidak ternaungi, pH tanah yang optimal antara 5,5 sampai 7.
Tanaman cabe juga sangat bagus jika intensitas pengairannya cukup, tetapi apabila jumlahnya berlebihan dapat menyebabkan kelembaban yang tinggi dan merangsang tumbuhnya penyakit jamur dan bakteri, namun sebaliknya jika kekurangan air, tanaman cabe dapat kurus, kerdil, layu dan mati. Sehingga harus benar-benar diperhatikan tingkat pengairannya agar tak terlalu over. Pengairan dapat menggunakan irigasi, air tanah dan air hujan, sebaiknya menghadapai musim kemarau, kita membuat kolam penampung dari pelastik di kebun kita agar pasokan air untuk tanaman dapat terjaga secara optimum (Polengs, 2011).


BAB 3

HASIL DAN PEMBAHASAN


A.   Hasil

-          Persemaian


-          Pembukaan lahan

-pengapuran dan pemasangan mulsa



-          Hasil akhir tanaman di bedengan


Praktikum dilaksanakan di lahan Fakultas pertanian UNTAN pada tanggal 21 mei 2016. Setiap hari sabtu pukul 07.00 WIB sampai selesai. Bahan yang digunakan bibit cabe, pupuk kandang,urea, sp36, KCl, mulsa, kapur dolomite. Alat yang digunakan cangkul, arit, parang, kaleng, alat tulis dan dokumentasi.
Cabe ditanam dengan jarak tanam  dengan jumlah tanamn 8 batang tanaman. Pupuk dasar yang di gunakan adalah pupuk kandang dan pupuk susulan dilakukan pada saat tanaman berumur 2 minggu setelah di pindahkan ke bedengan. Setelah tanaman berumur 2 bulan tanaman yang tersisah hanya sebagian saja dari 8 tanaman tersisa 5 tanaman. Hal ini disebabkan oleh lingkungan dan kurang di perhatikan.
Table 1 Hasil Tanaman
Baris kiri
Baris kanan
T1 = 10,5 cm
T1 = 14,5 cm
T2 = mati
T2 =  13,5 cm
T3 = 18,5 cm
T3 = 26,5 cm
T4 = mati
T4 = mati

B.   Pembahasan

Tanaman cabai dipilih secara khusus dalam kegiatan praktikum  ini karena cabai merupakan salah satu komoditas sayuran yang memiliki nilai komersial dan prospek yang tinggi, budidayanya relatif mudah untuk dilaksanakan,cepat menghasilkan karena tanaman ini memiliki umur panen relatif pendek(genjah), dan juga selain tanaman cabai kaya akan vitamin, juga dipercaya mempunyai khasiat obat yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Produksi cabai dapat ditingkatkan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah melalui upaya budidaya tanaman yang tepat, termasuk perawatannya. Di antara praktek perawatan yang umum dilakukan oleh petani adalah melakukan pemangkasan tunas yang tumbuh di ketiak daun(tunas wiwilan). Menurut beberapa literatur, pemangkasan ini dimaksudkan untuk memperkuat batang dan mengurangi pertumbuhan vegetatif yang tidak perlu di bagian bawah tubuh tanaman dan diarahkan ke bagian atas, selain juga untuk memperluas ruang sirkulasi udara dan penetrasi sinar matahari ke seluruh bagian tanaman. Pemangkasan juga dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan higienis sehingga tanaman bisa terbebas dari serangan hama danpenyakit. Keseluruhan tujuannya adalah agar tanaman dapat memberikan hasil dan kualitas buah yang maksimal.
Pada praktikum yang kami lakukan diharapkan sampai pada tujuan praktikum yaitu sampai pada perlakuan pemangkasan tunas wiwilan namun dalam terkendala waktu jadi tanaman belum bisa untuk dipangkas. Dalam pembahsaan kali ini kami menggunakan data yang ada.
Pada praktikum kali ini tanaman yang kami tanaman pada baris kiri 2 tanaman mati dan baris kanan mati 1 tanaman, mati nya tanaman ini kami duga karenya agak buruknya cuaca yaitu cucaca yang tak menentu terkadang panas terik dan tiba tiba hujan. Tanaman yang mati diduga karena terserang penyakit atau mati kekeringa, karena pada saat tanaman baru di pindahkan dari persemaian ke bedengan tcuaca sangat panas.
Tanaman juga sebelumnya sudah kami beri sedikit naungan dan agak tumbuh dengan baik namun ketika seminggu seltelahnya naungan kami buka, setelah itu tanaman mulai menguning dan mongering. Sebelum tanaman mati kami juga sudah melakukan penyulaman dengan tanaman yang kondisi yang baik.
Tanaman yang mengalami prtumbuhan yang baik adalah baris kanan yang hasilnya dapat kita lihat pada table 1 dan tanaman dengan petumbuhan yang sangat baik adalah tanaman baris kanan T3 dengan tinggi tanaman 26,5 cm dan tanaman yanag memiliki pertu,mbuhan yang rendah adalah baris kiri yaitu T1 dengan tinggi tanaman yang paling rendah yaitu hanya 10,5 cm. hal ini terjadi mungkin karena factor genetic tanaman karena pada awal penyemaian ada beberapa tanaman yang memiliki pertumbuhan yang baik dan yang kurang baik juga mungkin dari factor tanah atau media tanam yang digunakan kurang baik .

BAB 4

PENUTUP

A.   Kesimpulan

·         Pertumbuhan tanaman di pengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan, dan interakisi keduanya.
·         Tanaman cabai yang mati karena serangan penyakit dan kekeringan.
·         Pertumbuhan tanaman yang paling baik adalah tanaman T3 pada baris kanan dengan tinggi 26,5 cm dan tanaman yang paling rendah pertumbuhannya adalah tanaman T1 pada baris kiri dengan tinggi tanaman 10,5 cm.
·         Pertumbuhan tanaman pada baris kanan lebihi baik jika dibandingkan dengan tanaman pada baris kiri.


B.   Saran

Prektikum sebaiknnya dilakuan secepat dan seawal mungkin agar dapat sampai pada perlakuan atau tujuaan praktikum agar hasil data lebih jelas dan akan memudahkan dalam  melakukan pembahasan dan perbandingan.


DAFTAR PUSTAKA


Setiadi, 2008. Bertanam Cabai. Penebar Swadaya. Jakarta
Santika, A. 1999. Agribisnis Cabai. Penebar Swadaya. Jakarta.
Tim Bina Karya Tani., 2009. Pedoman Bertanam Cabai. Cetakan II, Yrama Widya, Bandung.
Polengs, 2011. Cabai, Pertanian, Tanaman  http:// budidayanews.blogspot.com/ 2011/03/cara-budidaya-cabai-rawit.html  diakses 4 November 2012


Sabtu, 15 Oktober 2016

Laporan Praktikum dan Tinjauan Pustaka Komplit Mata Kuliah Pupuk dan Pemupukan

LAPORAN PRAKTIKUM
                           PUPUK DAN PEMUPUKAN
Dosen :
( Dosen yang mengajar di kelas masing-masing)

PENGARUH BERBAGAI TAKARAN PUPUK N, P DAN K TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN JAGUNG
DI TANAH GAMBUT

Di Susun Oleh :
Nama   :Muh Duwi Lesmana
NIM      :C1011131113

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2015
BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Tanaman jagung merupakan salah satu sumber karbohidrat setelah padi dan gandum, banyak dikembangkan di Indonesia sebagai bahan makanan, pakan dan bahan baku industri. Permintaan akan jagung terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan perkembangan industry pangan dan pakan ternak (Budiman, 2010). Jagung sebagai pakan ternak dan pangan menempati urutan ketiga di dunia (7%) setelah padi (26%) dan gandum (23%) (Anonim2004). Produksi jagung di Indonesia dari tahun ketahun terus meningkat, seiring dengan permintaan yang tinggi. Produktivitas jagung di Sumatera Barat tahun 2006 rata-rata 4,7 ton/ha dengan laju pertumbuhan 7,45% per tahun (Anonim2004).
            Produksi jagung di Sumatera Barat dengan luas lahan 70 ribu ha adalah sekitar 400 ribu ton setahun. Produksi rata-rata masing-masing daerah masih beragam sesuai dengan potensi dan dukungan teknologi yang digunakan. Pesisir Selatan merupakan salah satu produksi jagung dengan luas areal tanam rata-rata pertahun mencapai 10 ribu ha, dengan produksi rata-rata 6,5 ton/ha (Anoninm,2010).
            Berbagai usaha telah dilakukan dalam memacu peningkatan produksi jagung, tetapi dalam perjalanannya menghadapi sejumlah permasalahan yang tidak hanya berhubungan dengan iklim, hama, penyakit dan keseimbangan hara, tetapi juga berkaitan dengan semakin meluasnya alih fungsi lahan termasuk lahan pertanian menjadi kawasan industri, perumahan, dan perhubungan. Berkaitan dengan alih fungsi lahan tersebut maka perlu memanfaatkan lahan-lahan yangtelah direklamasi, diantaranya adalah lahan gambut. Adapun masalah dari pada lahan gambut yang ada yaitu kemasaman tanah, status hara makro dan mikro yang rendah.
            Lahan gambut berpotensi besar untuk budidaya tanaman pangan (Setiadi,1990). Lahan gambut cukup luas sekitar 19 juta ha yang tersebar di Kalimantan, Sumatera dan Papua. Reklamasi lahan gambut yang telah dilakukan sampai sekarang belum menjadi lahan gambut sebagai lahan usaha tani, karena banyak faktor yang mencekam pertumbuhan tanaman seperti ketebalan dan taraf dekomposisi, status hara makro dan mikro yang rendah, adanya lapisan pirit, tata air yang jelek, kemasaman tanah dan adanya asam-asam organik meracun yang tinggi hasil dekomposisi bahan organik secara anaerobik (Alihamsyah et al., 2003).
            Salah satu cara mudah dan tepat untuk mengatasi masalah kemasaman tanah dan keberadaan asam-asam organik yang meracun ini adalah dengan menanam varietas jagung yang toleran terhadap cekaman asam-asam organik tanah gambut.

B.  Tujuan
Praktikum bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai takaran pupuk N, P dan K  terhadap pertumbuhan  tanaman jagung di tanah gambut.
C.  Tinjauan Pustaka
1.      Jagung
Kingdom               : Plantae (tumbuh-tumbuhan)
Divisio                  : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)
Sub Divisio          : Angiospermae (berbiji tertutup)
Classis                  : Monocotyledone (berkeping satu)
Ordo                     : Graminae (rumput-rumputan)
Familia                 : Graminaceae
Genus                   : Zea
Species                 : Zea mays L.
Jagung (Zea mays sp) adalah salah satu tanaman pangan penghasil karbohidrat yang terpenting di dunia, selain gandum danpadi. Bagi penduduk Amerika Tengah dan Selatan, bulir jagung adalah pangan pokok, sebagaimana bagi sebagian penduduk Afrika dan beberapa daerah di Indonesia. Di masa kini, jagung juga sudah menjadi komponen penting pakan ternak. Penggunaan lainnya adalah sebagai sumber minyak pangan dan bahan dasar tepung maizena. Berbagai produk turunan hasil jagung menjadi bahan baku berbagai produk industri. Dari sisi botani dan agronomi, jagung merupakan tanaman model yang menarik, khususnya di bidang genetika,fisiologi, dan pemupukan. Sejak awal abad ke-20, tanaman ini menjadi objek penelitian genetika yang intensif. Secara fisiologi, tanaman ini tergolong tanaman C4 sehingga sangat efisien memanfaatkan sinar matahari. Sebagian jagung juga merupakan tanaman hari pendekyang pembungaannya terjadi jika mendapat penyinaran di bawah panjang penyinaran matahari tertentu, biasanya 12,5 jam. Dalam kajian agronomi, perilaku jagung yang dramatis dan khas terhadap kekurangan atau keracunan unsur hara tertentu menjadikan jagung sebagai tanaman percobaan fisiologi pemupukan yang disukai
Keasaman tanah erat hubungannya dengan ketersediaan unsur-unsur hara tanaman. Keasaman tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman jagung adalah pH antara 5,6 - 7,5.
Morfologi tanman jagung
Akar.
Akar jagung tergolong akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 m meskipun sebagian besar berada pada kisaran 2 m. Pada tanaman yang sudah cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang membantu menyangga tegaknya tanaman (Burhanuddin, 2009).

Batang jagung
Batang jagung tegak dan mudah terlihat, sebagaimana sorgum dan tebu, namun tidak seperti padi atau gandum. Terdapat mutan yang batangnya tidak tumbuh pesat sehingga tanaman berbentuk roset. Batang beruas-ruas. Ruas terbungkus pelepah daun yang muncul dari buku. Batang jagung cukup kokoh namun tidak banyak mengandung lignin (Irfan, 1999).
Daun.
Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang. Antara pelepah dan helai daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Stomata pada daun jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki familia Poaceae. Setiap stomata dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan penting dalam respon tanaman menanggapi defisit air pada selsel daun (Puslitbangtan, 1993).

Bunga.
Jagung memiliki bunga jantandan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku Poaceae, yang disebut floret. Pada jagung, dua floret dibatasi oleh sepasang glumae (tunggal: gluma). Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol (Sinuraya, 1989).

Tongkol.
Tongkol tumbuh dari buku, di antara batang dan pelepah daun. Pada umumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga betina. Buah Jagung siap panen Beberapa varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol produktif, dan disebut sebagai varietas prolifik. Bunga jantan jagung cenderung siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada bunga betinanya protandri (Soemadi, 2000).

2.      Gambut
Gambut adalah jenis tanah yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tumbuhan yang setengah membusuk; oleh sebab itu, kandungan bahan organiknya tinggi.
Gambut adalah jenis tanah yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tetumbuhan yang setengah membusuk, oleh sebab itu kandungan bahan organiknya tinggi. Tanah yang terutama terbentuk di lahan-lahan basah ini disebut dalam bahasa Inggris sebagai peat; dan lahan-lahan bergambut di berbagai belahan dunia dikenal dengan aneka nama seperti bog, moor, muskeg, pocosin, mire, dan lain-lain.
          Reaksi tanah merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menyatakan reaksi asam atau basa dalam tanah. Sejumlah proses dalam tanah dipengaruhi oleh reaksi tanah dan biokimia tanah yang berlansung spesifik. Pengaruh lansung terhadap laju dekomposisi mineral tanah dan bahan organik, pembentukan mineral lempung bahkan pertumbuhan tanaman. Pengaruh tidak lansungnya terhadap kelarutan dan ketersediaan hara tanaman. sebagai contoh perubahan konsentrasi fosfat dengan perubahan pH tanah. Konsentrasi ion H+ yang tinggi bisa meracun bagi tanaman. Secara teoritis, angka pH berkisar antara 1 sampai 14. Angka satu berarti kepekatan ion hidrogen di dalam tanah ada 10 ‑ 1 atau 1/10 gmol/l. Tanah pada kepekatan ini sangat asam. Sementara angka 14 berarti kepekatan ion hidrogennya 10‑14 gmol/l. Tanah pada angka kepekatan ini sangat basa.
          Tanah‑tanah yang ada di Indonesia sangat bervariasi tingkat keasamannya. Ada tanah yang masam seperti Podsolik Merah Kuning, dan latosol Tanah yang alkalis seperti Mediteran Merah Kuning dan Grumosol. Bagi tanah – ­tanah yang bereaksi masam, seringkali tidak atau kurang sesuai bagi pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu pada tanah‑tanah demikian sering dilakukankan pengapuran (liming). bahan- bahan yang digunakan untuk menaikkan pH tanah yang bereaksi masam menjadi mendekati netral dengan harga pH sekitar 6,5.
          Pada umumnya reaksi tanah baik tanah gambut maupun tanah mineral menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan nilai pH. Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion Hidrogen (H+) di dalam tanah. Makin tinggi kadar ion H+ di dalam tanah, semakin masam tanah tersebut. Di dalam tanah selain H+ dan ion‑ion lain ditemukan pula ion OH-, yang jumlahnya sebanding dengan banyaknya H+. Pada tanah‑tanah masam jumlah ion H+ lebih tinggi daripada OH-. Sedangkan pada tanah alkalis kandungan OH- lebih banyak daripada H+. Bila kandungan H+ sama dengan OH- maka tanah bereaksi netral yaitu mempunyai pH 7. Bila tanah terlalu asam atau terlalu basa maka tanaman akan tumbuh kurang sempurna sekalipun masih bisa tumbuh dan menghasilkan buah. Memang ada beberapa tanaman tertentu yang senang di tanah asam ataupun basa. Ketersediaan unsur hara makro di dalam tanah ini sedikit sedangkan hara mikro seperti Besi dan Aluminium tinggi. Hal ini mengakibatkan tanaman kekurangan hara dan keracunan. Salah satu upaya yang ditempuh dalam upaya meningkatkan dan memperbaiki lahan masam adalah dengan menurunkan keasaman dan meningkatkan kejenuhan basa yang diperoleh dengan pemberian kapur serta pemupukan. Dengan adanya peningkatan kejenuhan basa, maka pH tanah naik dan unsur hara relatif lebih mudah tersedia.
          Tanah gambut di Indonesia pada umunya mempunyai reaksi kemasaman tanah (pH) yang rendah, yaitu antara 3,0 – 5,0 (Hardjowigeno, 1996). Hasil analisis di berbagai wilayah di Sumatera, Kalimantan, dan Irian Jaya, memperlihatkan bahwa Histosols menunjukkan reaksi tanah masam ekstrim (pH 3,5 atau kurang) sampai sangat masam sekali (pH 3,6 – 4,5).Tanah gambut mempunyai pH yang rendah yang berkisar antara 3 – 5, dan menurun bersama jeluk.. Dijumpainya pH yang relatif tinggi (sekitar 5) adalah akibat seringnya dilakukan pembakaran seresah di atas tanah. Tanah gambut yang digenangi untuk budidaya padi sawah akan meningkat pH-nya. Ketersediaan unsur-unsur hara terutama hara makro N, P dan K dan sejumlah hara mikro dalam tanah gambut rendah sampai sangat rendah. Kapasitas tukar kation (KTK) tanah gambut relatif tinggi (115 – 270 me.%), tetapi relatif rendah bila dihitung atas dasar volume tanah di lapangan. Kejenuhan basa tanah gambut relatif rendah, yakni 5,4 – 13,6 % sedangkan nisbah C/N relatif tinggi yakni berkisar antara 24,0 – 33,4 (Suhardjo dan Widjaja-Adhi, 1976).
          Secara umum kemasaman tanah gambut berkisar antara 3-5 dan semakin tebal bahan organik maka kemasaman gambut meningkat. Gambut pantai memiliki kemasaman lebih rendah dari gambut pedalaman. Kondisi tanah gambut yang sangat masam akan menyebabkan kekahatan hara N, P, K, Ca, Mg, Bo dan Mo. Unsur hara Cu, Bo dan Zn merupakan unsur mikro yang seringkali sangat kurang (Wong et al, 1986, dalam Mutalib et al, 1991). Kekahatan Cu acapkali terjadi pada tanaman jagung, ketela pohon dan kelapa sawit yang ditanam di tanah gambut.Tanah gambut  dengan kubah gambut yang tebal umumnya memiliki kesuburan yang rendah dengan pH sekitar 3,3 namun pada gambut tipis di kawasan dekat tepi sungai gambut semakin subur dan pH berkisar 4,3 (Andriesse, 1988). Kemasaman tanah gambut disebabkan oleh kandungan asam asam organik yang terdapat pada koloid gambut. Dekomposisi bahan organik pada kondisi anaerob menyebabkan terbentuknya senyawa fenolat dan karboksilat yang menyebabkan tingginya kemasaman gambut. Selain itu terbentuknya senyawa fenolat dan karboksilat dapat meracuni tanaman pertanian (Sabiham, 1996). Jika tanah lapisan bawah mengandung pirit, pembuatan parit drainase dengan kedalaman mencapai lapisan pirit akan menyebabkan pirit teroksidasi dan menyebabkan meningkatnya kemasaman gambut dan air disaluran drainase.

3.      Peranan Pupuk N, P dan K bagi pertumbuhan tanaman
Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik. Material pupuk dapat berupa bahan organik ataupun non-organik (mineral). Pupuk berbeda dari suplemen. Pupuk mengandung bahan baku yang diperlukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sementara suplemen sepertihormon tumbuhan membantu kelancaran proses metabolisme. Meskipun demikian, ke dalam pupuk, khususnya pupuk buatan, dapat ditambahkan sejumlah material suplemen.
Dalam pemberian pupuk perlu diperhatikan kebutuhan tumbuhan tersebut, agar tumbuhan tidak mendapat terlalu banyak zat makanan. Terlalu sedikit atau terlalu banyak zat makanan dapat berbahaya bagi tumbuhan. Pupuk dapat diberikan lewat tanah ataupun disemprotkan ke daun. Salah satu jenis pupuk organik adalah kompos.
Pupuk NPK adalah pupuk buatan yang berbentuk cair atau padat yang mengandung unsur hara utama nitrogen, fosfor, dan kalium. Pupuk NPK merupakan salah satu jenispupuk majemuk yang paling umum digunakan.
Ketiga unsur dalam pupuk NPK membantu pertumbuhan tanaman dalam tiga cara. Penjelasan singkatnya adalah sebagai berikut:
·         Nitrogen (N)
            Nitrogen diserap oleh tanaman sebagai NO3- dan NH4+ kemudian dimasukkan ke dalam semua gas amino dan Protein (Indrana, 1994).  Ada juga bentuk pokok nitrogen dalam tanah mineral, yaitu nitrogen organik, bergabung dengan humus tanah  nitrogen amonium dapat diikat oleh mineral lempung tertentu, dan amonium anorganik dapat larut dan senyawa nitrat (Buckman dan Brady, 1992).
            Nitrogen yang tersedia tidak dapat langsung digunakan, tetapi harus mengalami berbagai proses terlebih dahulu. Pada tanah yang immobilitasnya rendah nitrogen yang ditambahkan akan bereaksi dengan pH tanah yang mempengaruhi proses nitrogen.  Begitu pula dengan proses denitrifikasi yang pada proses ini ketersediaan nitrogen tergantung dari mikroba tanah yang pada umumnya lebih menyukai senyawa dalam bentuk ion amonium daripada ion nitrat (Poerwowidodo, 1992).
            Peranan utama nitrogen (N) bagi tanaman jagung adalah merangsang pertumbuhan secara keseluruhan, khususnya batang, cabang dan daun.  Selain itu, nitrogen pun berperan penting dalam pembentukan zat hijau daun yang sangat berguna dalam proses fotosintesis (Jumin, 1992).
            Pupuk N dengan bantuan organik.  Pupuk ini hasil sampingan industri pertanian.  Pupuk ini pada umumnya pelepasan N-nya lambat, hanya setelah dimineralisasi akan menjadi lebih cepat.  Pupuk N dari organic ini sebagian besar dipergunakan diperusahaan khusus, seperti perusahaan pohon buah-buahan, sayuran dan bunga, karena sangat meningkatkan kesuburan tanah.  Kadang-kadang pupuk ini digolongkan dalam pupuk majemuk, karena selain mengandung N juga mengandung P dan K walaupun hanya sedikit.  Pada umumnya pupuk ini diberikan ke dalam tanah sebelum ditanami, kandungan N juga tidak begitu tinggi, hanya sekitar 4-15 %  (Pinus Lingga, 1993).
·         N – nitrogen: membantu pertumbuhan vegetatif, terutama daun
-Merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan
-Merupakan bagian dari sel ( organ ) tanaman itu sendiri
-Berfungsi untuk sintesa asam amino dan protein dalam tanaman
-Merangsang pertumbuhan vegetatif ( warna hijau ) seperti daun
-Tanaman yang kekurangan unsur N gejalanya : pertumbuhan lambat/kerdil, daun hijau kekuningan, daun sempit, pendek dan tegak, daun-daun tua cepat menguning dan mati.

Phosphor (P)
            Paling sedikit ada empat sumber pokok fosfor untuk memenuhi kebutuhan akan unsur ini, yaitu pupuk buatan, pupuk kandang, sisa-sisa tanaman termasuk pupuk hijau, dan senyawa asli unsur ini yang organik dan anorganik, yang terdapat dalam tanah. Unsur P diserap tanaman dalam bentuk ortofosfat primer, H2PO4. menyusul kemudian dalam HPO42-. Species ion yang merajai tergantung dari PH sistem tanah-pupuk-tanaman, yang mempunyai ketersediaan tinggi pada pH 5,5-7. kepekatan H2PO4 yang tinggi dalam larutan tanah memungkinkan tanaman mengangkutnya dalam takaran besar karena perakaran tanaman diperkirakan mempunyai 10 kali penyerapan tanaman untuk H2PO4 dibanding untuk HPO42- (Hardjowigeno, 1993).
            Bentuk P yang lain yang dapat diserap tanaman adalah pirofosfat dan metafosfat. Kedua bentuk ini misalnya terdapat dalam bentuk pupuk P dan K metafosfat. Tanaman juga menyerap P dalam bentuk fosfat organik, yaitu asam nukleat dan phytin. Kedua bentuk senyawa ini terbentuk melalui proses degradasi dan dekomposisi bahan organik yang langsung dapat diserap oleh tanaman (Hakim, dkk, 1986).
            Gejala kekurangan P pada tanaman jagung dapat menjadikan pertumbuhan terhambat (kerdil), daun-daun/malai menjadi ungu atau coklat mulai dari ujung daun, dan juga pada jagung akan menyebabkan tongkol jagung menjadi tidak sempurna dan kecil-kecil  Pupuk ini mengandung fosfat yang bersifat masam dan terdapat dalam bentuk mudah dilarutkan dalam air, pupuk ini disebut super fosfat, ada bentuk lain yang hanya larut dalam nitrat ammnia seperti scoreis dan fosfat.  Fosfat ini sama sekali tidak bias dilarutkan dalam air atau nitrat.  Pupuk P yang bias dilarutkan dalam air.  Bentuk ini dapat dipakai pada semua jenis tanaman dan tanah (Rosmarkam, 2002).
            Pupuk P yang tidak melarut.  Walaupun bentuk ini tidak larut dalam air ataupun dalam ammonium nitrat, naum dapat dihisap oleh tanaman pada tanah masam.  Bentukbentuknya ialah fosfta yang tergiling atau hypephosphat.  Pada tanah masam semua bentuk P dapat dipakai, sedang tanah yang berkapur hanya bentuk-bentuk yang mencair dapat dipakai (Poerwidodo, 1992).


·       P – fosfor: membantu pertumbuhan akar dan tunas
Fosfor ( P )
-Berfungsi untuk pengangkutan energi hasil metabolisme dalam tanaman
-Merangsang pembungaan dan pembuahan
-Merangsang pertumbuhan akar
-Merangsang pembentukan biji
-Merangsang pembelahan sel tanaman dan memperbesar jaringan sel
-Tanaman yang kekurangan unsur P gejaalanya : pembentukan buah/dan biji berkurang, kerdil, daun berwarna keunguan atau kemerahan ( kurang sehat )


·         Kalium (K)
            Berbagai bentuk kalium dalam tanah digolongkan atas dasar ketersediaannya menjadi 3 golongan besar yaitu bentuk relatif tidak tersedia, mudah tersedia, dan lambat tersedia. Senyawa yang mengandung sebagian besar bentuk kalium ini adalah feldspat dan mika, bahwa sumber-sumber kalium adalah beberapa jenis mineral, sisa-sisa tanaman dan jasad  renik, air irigasi serta larutan dalam tanah, dan pupuk buatan (Suprapto, 1998).
            Unsur ini diserap tanaman dalam bentuk ion K+ dan dapat dijumpai di dalam tanah dalam jumlah yang bervariasi, namun jumlahnya dalam keadaan tersedia bagi tanaman biasanya kecil. Kalium ditambahkan ke dalam tanah dalam bentuk garam-garam mudah larut seperti KC1, K2SO4, KNO3, dan K-Mg-SO4. Mekanisme penyerapan K mencakup aliran massa, konveksi, difusi, dan serapan langsung dari permukaan zarah tanah (Hardjowigeno, 1993).
            Di dalam tanah, ion K bersifat sangat dinamis dan juga mudah tercuci pada tanah berpasir dan tanah dengan pH yang rendah. Sekitar 1-10% terjebak dalam koloid tanah karena kaliumnya bermuatan positif. Bagi tanaman, ketersediaan kalium pada posisi ini agak lambat. Kandungan kalium sangat tergantung dari jenis mineral pembentuk tanah dan kondisi cuaca setempat. Persediaan kalium di dalam tanah dapat berkurang oleh tiga hal, yaitu pengambilan kalium oleh tanaman, pencucian kalium oleh air, dan erosi tanah (Harisuseno, 1997).
            Peranan kalium secara fisiologis adalah metabolisme karbohidrat, yakni pembentukan pemecahan, dan translokasi pati, metabolisme nitrogen dan sintesis protein, mengawasi dan mengatur kegiatan berbagai unsur mineral, netralisasi asam-asam organik penting secara fisiologis, mengaktifkan berbagai enzim, mempercepat proses pertumbuhan jaringan meristematik, mengatur pergerakan stomata dan hal-hal yang berhubungan dengan air (Suprapto, 1998).
            Pupuk yang mengandung K bentuk-bentuknya adalah Sylvinite, adalah pupuk yang mengandung 40 % K2O, adalah garam mineral yang tersuisun dari garam-garam tambang. Kalium khlorida adalah pupuk yang mengandung 60 % K2O, pupuk ini adalah bentuk yang paling banyak dipakai dimana-mana, kecuali tanaman yang memang tidak tahan terhadap Cl, seperti tembakau dan sayur-sayuran.  Kalium sulfat adalah    pupuk yang     mengandung pula     belerang 10 %  tetapi    dapat dipakai ada  tanaman yang tidak tahan Cl.  KCl adalah pupuk yang mengandung 52 % K2O dan    8 % Mg yang diimpor dari Jerman, banyak dipakai untuk tanaman buah-buahan yang banyak memerlukan kecuali K juga Mg nitrat (Buckman dan Brady, 1992).
K – kalium:
-membantu pembungaan dan pembuahan
-Berfungsi dalam proses fotosintesa, pengangkutan hasil asimilasi, enzim dan mineral termasuk air.
-Meningkatkan daya tahan/kekebalan tanaman terhadap penyakit
Tanaman yang kekurangan unsur K gejalanya :
-batang dan daun menjadi lemas/rebah
-daun berwarna hijau gelap kebiruan tidak hijau segar dan sehat
- ujung daun menguning dan kering
-timbul bercak coklat pada pucuk daun.

4.      Kapur
Pengapuran adalah upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pH tanah dengan menambahkan kapur kedalam tanah. Tujuan utama dari pengapuran ini ialah untuk meningkatkan pH dari pH masam menjadi pH netral. Pada pH tanah yang masam, banyak unsur hara (misalnya: N, P, K, Ca, Mg) yang tidak tersedia bagi tanaman karena pada pH rendah unsur tersebut rusak. Hanya unsur Fe dan Al (unsur mikro) yang tersedia pada tanah masam. Maka diharapkan, dengan pengapuran akan meningkatkan pH menjadi netral, dimana pada pH netral banyak unsur hara yang dapat tersedia bagi tanaman. 
Pemberian kapur (pengapuran) adalah salah satu tindakan perbaikan ()ameliorasi) tanah agar pH tanah meningkat. Tanah yang terlalu masam (pH rendah) tidak dapat menyediakan beberapa hara mineral penting bagi tanaman, seperti fosfor dan kalsium, dan sebaliknya meningkatkan kelarutan beberapa mineral yang dapat meracun (toksik) bagi tanaman. Pemberian kapur (liming), baik kapur kalsium maupun yang mengandung magnesium, dapat memperbaiki kesuburan tanah dan meningkatkan hasil.
Jenis kapur yang diberikan tergantung dari tujuan pengapuran: kapur giling (kalsit super), kapur tohor atau kapur hidup (kalsit,quicklime), dolomit, kapur mati atau kapur tembok (slaked lime, Ca(OH)2), kapur liat atau marl, kapur bara (slag), dan cangkang kerang.
Untuk beberapa komoditi tanaman yang lain di sajikan dalam tabel di bawah ini :
Tanaman
pH Optimum
Padi
5-6.5
Jagung
5.5-7
Kedelai
6-7
Kacang Tanah
5.5-6.5
Tebu
6-8
Tomat
5.5-7.5
Cabai
5.5-6.5
Tenbakau
5-6
Kubis
5.5-7.5
Seledri
6-7
Nanas
6-8
Pisang
6-7.5

 

D.  Hipotesa


        Diduga perlakuan berbagai takaran pupuk N, P dan K berpengaruh terhadap pertumbuhan  tanaman jagung di tanah gambut.



BAB II

METODA PRAKTIKUM


A.    Waktu dan Lokasi    
Dalam proses praktikum pupuk dan pemupukan ini, kami diberikan bimbingan oleh asisten dosen pembimbing praktikum di lapanang. Praktikum dilakukan dilahan yang sudah disediakan oleh pihak fakultas, tepatnya di kawasan lahan tempat mahasiswa melakukan penelitian di lahan fakultas pertanian. Proses budidaya tanaman jagung ini mulai dari tanggal09  April 2015 dan pengamatan mulai tanggal 14 April – 28 Mei 2015.
Tabel 1. Jadwal Waktu Pelaksanaan Praktikum
No
Kegiatan
Minggu Ke
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
1
Persiapan Media Tanam













2
Pemberian Pupuk Dasar













3
Penanaman













4
Pemeliharaan Tanaman













5
Panen













6
Pengolahan Data













7
Penyusunan Laporan














B.     Alat  dan Bahan
1.      Alat
-       Cangkul
-       Meteran
-       Polybag
-       Timbangan
-       Jangka sorong
-        Karung
2.      Bahan
-       benih Jagung Bonanza F1
-       tanah gambut
-       pupuk (N,P, dan K)
-       kapur Dolomit
-       air

           
C.      Pelaksanaan Praktikum
1.      Benih
          Benih yang di gunakan adalah benih jagung manis yang sudah di siapkan oleh laboolatorium yaitu benih jagung Bonanza F1
2.      Persiapan Media Tanam &Pemupukan
          Persiapan media tanam dilakukan dengan mengisi tanah gambut kedalam polibag dengan berat 8 kg per polybag. Polybag yang sudah terisi oleh tanah gambut kemudian ditambahkan kapur Dolomit sebanyak 80 gr/polybag kemudian di inkubasi selama sehari. Kemudian ditambahkan pupuk urea, dan KCL dan SP-36 dengandosis yang berbeda-beda.
Dengan perlakuan sebagai berikut:
Untuk Kelompok 4,5,6
Ulangan
Perlakuan
N(Urea)/gr
P(SP-36)/gr
K(KCL)/gr
Kapur/gr
P0
80
P1
8
2
80
P2
8
1,2
2
80
P3
8
2,4
2
80
P4
8
3,6
2
80
P5
8
4,8
2
80
P6
8
6
2
80

3.      Penanaman
Penanaman dilakukan setelah media  tanam telah siap digunakan, benih yang digunakan yaitu jagung manis (Bonanza F1). Penanaman diberikan tiga benih per polibag dan dilakukan pada sore hari
           
4.      Pemeliharaan
Setelah benih ditanam maka perlu adanya pemeliharaanseperti :
·         Penyiraman dilakukan setiap 1 X dalam 2 hari pada masa vegetatif. Penyiraman dilakukan bertujuan agar air tersedia bagi tanah gambut sehingga tidak menyebabkan kekeringan bagi tanah, serta air juga tersedia bagi tanaman
·         Pengendalian gulma dilakukan jika ada gulma yang tumbuh diantara  budidaya tanaman  jagung. Biasanya penyiangan dilakukan 1 X penyiangan dalam 2 minggu didalam polibag atau diluar polibag, sehingga tanaman jagung terbebas dari gangguan gulma. Dimana kita ketahui bahwa gulma dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan dan hasil produksi tanaman jagung yang kita budidayakan

5.      Panen 
Panen di lakukan ketika tongkol jagung sudah besar namun pada pratikum ini tidak sampai pada tahap pemanenan. Hanya saja pengambilan data dilkukan pada masa vegetatif maksimum selesai, yaitu ditandai dengan munculnya bunga pada tanaman.














D.     Pengamatan
Tabel . Tinggi tanaman (cm)
No
Perlakuan
Rerata Pengamatan Minggu ke
M-1
M-2
M-3
M-4
M-5
M-6
M-7
M-8
1
P0
18,5
35
39,33
58,16
72,79
90,66
91,03
111,05
2
P1
13
28,5
30,56
41,3
63
77,83
88,06
103
3
P2
13
31,5
33,5
55,14
85,8
123,2
157,71
169
4
P3
20,5
28
40,94
62,27
77,94
100,1
116,93
124,5
5
P4
14,5
33,7
41,83
57,07
90,91
126,23
152,21
162,5
6
P5
12,5
21
31,77
52,73
76,11
103,64
133,71
147
7
P6
8
16
23,14
36,07
48,35
61,1
75,71
83,5
Tinggi tanaman di ukur setiap hari untuk mengantisipasi jika tanaman mati, tinggi tanaman diukur pada saat daun tanaman terbuka(kanopi terbuka) hal ini karena tanaman sudah bias di ukur tingginya. Pengukuran tinggi tanaman monokotil yaitu diukur pada saat daun sudah  terbuka sempurna, karena pengukuran tanaman monokotil di ukur dengan sampai ujung daun terpanjang.











Tabel . Diameter batang (cm)
No
Perlakuan
Rerata Pengamatan Minggu ke
M-1
M-2
M-3
M-4
M-5
M-6
M-7
M-8
1
P0
0,2
0,3
0,46
0,67
0,85
1,19
1,2
1,2
2
P1
0,2
0,2
0,39
0,60
0,75
1,01
1,2
1,3
3
P2
0,3
0,3
0,42
0,58
1,2
1,75
1,98
2,2
4
P3
0,2
0,2
0,41
0,63
0,96
1,31
1,41
1,5
5
P4
0,3
0,3
0,55
1,1
1,26
1,75
1,88
1,97
6
P5
0,3
0,3
0,45
0,7
1,13
1,51
1,9
2,1
7
P6
0,27
0,3
0,38
0,7
0,81
1
1,1
1,1
Pada diameter batang, pengamatan yang kami lakukan dengan menghitung diameter setiap hari menggunakan jangka sorong yang disediakan oleh labolatorium. Pengukuran ini dilakukan dengan mengukur pangkal batang tanaman jagung yang pipih.














Tabel . Jumlah Daun (Helai)
No
Perlakuan
Rerata Pengamatan Minggu Ke
M-1
M-2
M-3
M-4
M-5
M-6
M-7
M-8
1
P0
2
4
4,85
6,42
7
7
8,57
7
2
P1
2
2
3,85
4,71
6,86
6,86
8,43
7,5
3
P2
1
3
4,42
6,57
8,71
9,57
10,86
9
4
P3
2
4
4,85
6,43
7,14
7,43
8,86
9
5
P4
2
4
5,42
7,43
8
9
10
10
6
P5
2
4
5
6
7
7,57
9,57
9,5
7
P6
2
4
4,57
5,57
7,14
7,14
8,43
5
Ket : Jika ada selisih dengan minggu sebelumnya berarti ada daun yang gugur

Pada pengamatan daun dilakukan setiap hari, daun yang mati atau gugur yaitu daun yang rusak dengan 50% dari helai daun. Daun yang rusak ini karena sudah rusak sel hijau daunnya yaitu klorofil karena daun tidak bisa berfotosintesis lagi dan dikatakan mati atau rusak.

Tabel 4. Waktu Berbunga ( vegetatif maksimum)
Perlakuan
Minggu terakhir
(28 mei )
P0
Sudah
P1
Belum
P2
Sudah
P3
Sudah
P4
Sudah
P5
Sudah
P6
Sudah
Pengamatan dilakukan pada tanaman sudah cukup besar dan tanda tanda peertumbuhan vegetatif sudah berhenti. Pengamatan waktu berbunga merupakan tanda bahwa tanaman telah mencapai vegetatif maksimum. Waktu berbunga ditandai dengan sudah terbentuknya bunga jantan.

E.     Analisis Statistik (RAL)
Perhitungan Analisis Keragaman Pengaruh Berbagai Takaran Pupuk N, P Dan K Terhadap Pertumbuhan Tanaman Jagung di Tanah Gambut

Dari hasil data tiga kelompok (4 (Ulangan I, 5 (Ulangan II) dan 6 (Ulangan III)), maka diperoleh:
Tabel . Tinggi Tanaman jagung (cm)
Perlakuan
Ulangan
Total
Rerata
I
II
III
p0
112
175
112,5
399,5
133,167
p1
105
143
105
353
117,67
p2
170
162
112
444
148
p3
125
150
60
335
111,67
p4
165
159,5
126,5
451
150,33
p5
149
160,2
81
390,2
130,067
p6
85
145,3
91,5
321,8
107,26

2.694,5
128,31

Perhitungan analisis keragaman pengaruh pemberian pupuk N, P dan K terhadap tinggi tanaman jagung adalah sebagai berikut :
FK                   = (Y..)2 / rt
= (2.694,5)2/3.7 = 345.730,0119
JK total           = S Yij2 - FK
                        = 1122+1172+112,52+.....+91,52  FK = 21.810,118
JK perlakuan   = (S Yi.2  / r ) - FK
                        = (339,52+3532+....+321,82)/4) – FK = 5.197,498
JK galat           = JKT - JKP
                        = 21.810,118 - 5.197,498 = 16.612,62
DB total          = rt - 1
                        = 3.7 – 1 = 20
DB Perlakuan  = t – 1
                        = 7 – 1 = 6
DB Galat         = t(r-1) atau (db t - db p)
                        = 20 – 6 = 14
KT Perlakuan  = JKP / dbp
= 5.197,498 / 6 = 866,25
            KT galat          = JKG / db g
= 16.612,62 / 14 = 1.186,616
F hit                 = KTP / KTG
= 866,25 / 1186,616 = 0,73
KK                  =
                        = = 26,85 %
Tabel 11. Hasil Analisis Keragaman
Pengaruh Pemberian Pupuk N, P dan K Terhadap Data Tinggi Tanaman Jagung
Sumber Keragaman
(SK)
Derajad Bebas (DB)
Jumlah Kuadrat
(JK)
Kuadrat Tengah
(KT)
F.Hit
F tabel
5%
1%
Perlakuan
Galat
6
14
5.197,498
16.612,62
866,25
1186,616
0,73tn

2,85
4,46
Total
20
21.810,118

KK = 26,85 %
Keterangan : Tanda tn tidak berbeda pada α 0,05 dan 0,01 dan disebut tidak nyata (F.Hit < F. Tabel 0,05 dan 0.01)
Kesimpulan dari hasil anova diatas bahwa pemberian beberapa dosis pupuk N, P dan K tidak memberi pengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi tanaman jagung pada tanah gambut.


Tabel . Diameter Batang tanaman jagung (cm)
perlakuan
Ulangan
Total
Rerata
I
II
III
p0
1,2
2,2
1,2
4,6
1,53
p1
1,3
1,83
1,4
4,53
1,51
p2
2,2
2,34
1,5
6,04
2,01
p3
1,51
1,82
1,22
4,55
1,52
p4
2,04
1,9
1,44
5,38
1,79
p5
2,1
2,12
1,2
5,42
1,80
p6
1,1
1,91
1,1
4,11
1,37

34,63
1,65

Perhitungan analisis keragaman pengaruh pemberian pupuk N, P dan K terhadap diameter batang tanaman jagung adalah sebagai berikut :
FK                   = (Y..)2 / rt
= (34,63)2/3.7 = 57,11
JK total           = S Yij2 - FK
                        = 1,22+2,22+1,22+.....+2,22  FK = 3,517
JK perlakuan   = (S Yi.2  / r ) - FK
                        = (2,42+2,72+....+2,22)/4) – FK = 0,919
JK galat           = JKT - JKP
                        = 3,517- 0,919 = 2,597
DB total          = rt - 1
                        = 3.7 – 1 = 20
DB Perlakuan  = t – 1
                        = 7 – 1 = 6
DB Galat         = t(r-1) atau (db t - db p)
                        = 20 – 6 = 14
KT Perlakuan  = JKP / dbp
= 0,919 / 6 = 0,153
            KT galat          = JKG / db g
= 2,597/ 14 = 0,186
F hit                 = KTP / KTG
=  0,153 / 0 ,186 = 0,82
KK                  =
                        = = 26,14 %

Tabel . Hasil Analisis Keragaman
Pengaruh Pemberian Pupuk N, P dan K Terhadap Diameter Batang Tanaman Jagung
Sumber Keragaman
(SK)
Derajad Bebas (DB)
Jumlah Kuadrat
(JK)
Kuadrat Tengah
(KT)
F.Hit
F tabel
5%
1%
Perlakuan
Galat
6
14
0,919
2,597
0,153
0,186
0,82tn

2,85
4,46
Total
20
3,517

KK = 26,14 %
Keterangan : Tanda tn tidak berbeda pada α 0,05 dan 0,01 dan disebut tidak nyata (F.Hit < F. Tabel 0,05 dan 0.01)
Kesimpulan dari hasil anova diatas bahwa pemberian beberapa dosis pupuk N, P dan K tidak memberi pengaruh nyata terhadap pertumbuhan diameter batang tanaman jagung pada tanah gambut.




Tabel . Jumlah daun tanaman jagung (Helai)
Perlakuan
Ulangan
Total
Rerata
I
II
III
p0
6
9
10
25
8,33
p1
7
9
11
27
9
p2
9
9
13
31
10,33
p3
9
9
10
28
9,33
p4
10
10
10
30
10
p5
9
9
9
27
9
p6
5
9
9
23
7,67

191
9,095
Perhitungan analisis keragaman pengaruh pemberian pupuk N, P dan K terhadap tinggi tanaman jagung adalah sebagai berikut :
FK                   = (Y..)2 / rt
= (191)2/3.7 = 1.737,19
JK total           = S Yij2 - FK
                        = 62+92+102+.....+92  FK = 53,81
JK perlakuan   = (S Yi.2  / r ) - FK
                        = (252+272+....+232)/4) – FK = 15,143
JK galat           = JKT - JKP
                        = 53,81 – 15,143 = 38,667
DB total          = rt - 1
                        = 3.7 – 1 = 20
DB Perlakuan  = t – 1
                        = 7 – 1 = 6
DB Galat         = t(r-1) atau (db t - db p)
                        = 20 – 6 = 14
KT Perlakuan  = JKP / dbp
= 15,143 / 6 = 2,524
            KT galat          = JKG / db g
= 38,667 / 14 = 2,762
F hit                 = KTP / KTG
=  2,524 / 2,762 = 0,914
KK                  =
                        =
                        = 18,27 %
Tabel. Hasil Analisis Keragaman
Pengaruh Pemberian Pupuk N, P dan K Terhadap Jumlah Daun Tanaman Jagung
Sumber Keragaman
(SK)
Derajad Bebas (DB)
Jumlah Kuadrat
(JK)
Kuadrat Tengah
(KT)
F.Hit
F tabel
5%
1%
Perlakuan
Galat
6
14
15,143
38,667
2,524
2,762
0,914tn

2,85
4,46
Total
20
53,81




KK = 18,27%
Keterangan : Tanda tn tidak berbeda pada α 0,05 dan 0,01 dan disebut tidak nyata (F.Hit < F. Tabel 0,05 dan 0.01)
Kesimpulan dari hasil anova diatas bahwa pemberian beberapa dosis pupuk N, P dan K tidak memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan jumlah daun tanaman jagung pada tanah gambut.






BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil (dalam bentuk tabel)
Berdasarkan hasil praktikum pupuk dan pemupukan yaitu mengamati pengaruh berbagai takaran pupuk N, P dan K terhadap pertumbuhan tanaman jagung di tanah gambut, maka diperoleh data antara lain:
1.      Data Kelompok 4
Tabel 4. Tinggi tanaman (cm)
No
Perlakuan
Rerata Pengamatan Minggu ke
M-1
M-2
M-3
M-4
M-5
M-6
M-7
M-8
1
P0
18,5
35
39,33
58,16
72,79
90,66
91,03
111,05
2
P1
13
28,5
30,56
41,3
63
77,83
88,06
103
3
P2
13
31,5
33,5
55,14
85,8
123,2
157,71
169
4
P3
20,5
28
40,94
62,27
77,94
100,1
116,93
124,5
5
P4
14,5
33,7
41,83
57,07
90,91
126,23
152,21
162,5
6
P5
12,5
21
31,77
52,73
76,11
103,64
133,71
147
7
P6
8
16
23,14
36,07
48,35
61,1
75,71
83,5






Tabel 5. Diameter batang (cm)
No
Perlakuan
Rerata Pengamatan Minggu ke
M-1
M-2
M-3
M-4
M-5
M-6
M-7
M-8
1
P0
0,2
0,3
0,46
0,67
0,85
1,19
1,2
1,2
2
P1
0,2
0,2
0,39
0,60
0,75
1,01
1,2
1,3
3
P2
0,3
0,3
0,42
0,58
1,2
1,75
1,98
2,2
4
P3
0,2
0,2
0,41
0,63
0,96
1,31
1,41
1,5
5
P4
0,3
0,3
0,55
1,1
1,26
1,75
1,88
1,97
6
P5
0,3
0,3
0,45
0,7
1,13
1,51
1,9
2,1
7
P6
0,27
0,3
0,38
0,7
0,81
1
1,1
1,1

Tabel 6. Jumlah Daun (Helai)
No
Perlakuan
Rerata Pengamatan Minggu Ke
M-1
M-2
M-3
M-4
M-5
M-6
M-7
M-8
1
P0
2
4
4,85
6,42
7
7
8,57
7
2
P1
2
2
3,85
4,71
6,86
6,86
8,43
7,5
3
P2
1
3
4,42
6,57
8,71
9,57
10,86
9
4
P3
2
4
4,85
6,43
7,14
7,43
8,86
9
5
P4
2
4
5,42
7,43
8
9
10
10
6
P5
2
4
5
6
7
7,57
9,57
9,5
7
P6
2
4
4,57
5,57
7,14
7,14
8,43
5
Ket : Jika ada selisih dengan minggu sebelumnya berarti ada daun yang gugur
2.      Data Kelompok
Tabel 7. Data kelompok 4 (Pengamatan terakhir)
No
Perlakuan
Tinggi Tanaman
Diameter Batang
Jumlah Daun
1
P0
112
1,2
6
2
P1
105
1,3
7
3
P2
170
2,2
9
4
P3
125
1,51
9
5
P4
165
2,04
10
6
P5
149
2,1
9
7
P6
85
1,1
5

Tabel 8. Data Kelompok 5 (Pengamatan terakhir)
No
Perlakuan
Tinggi Batang
Diameter Batang
Jumlah Daun
1
P0
175
2,2
9
2
P1
143
1,83
9
3
P2
162
2,34
9
4
P3
150
1,82
9
5
P4
159,5
1,9
10
6
P5
160,2
2,12
9
7
P6
175
2,2
9




Tabel 9. Data Kelompok 6 (Pengamatan terakhir)
No
Perlakuan
Tinggi Batang
Diameter Batang
Jumlah Daun
1
P0
112,5
1,20
10
2
P1
105
1,40
11
3
P2
112
1,50
13
4
P3
60
1,22
10
5
P4
126,5
1,44
10
6
P5
81
1,20
9
7
P6
91,5
1,10
9

3.        Data 3 kelompok(4,5,6)
Tinggi tanaman
perlakuan
Ulangan
Jumlah
rerata
4
5
6
p0
112
175
112.5
399.5
133.17
p1
105
143
105
353
117.67
p2
170
162
112
444
148.00
p3
125
150
60
335
111.67
p4
165
159.5
126.5
451
150.33
p5
149
160.2
81
390.2
130.07
p6
85
145.3
91.5
321.8
107.27

Jumlah daun
perlakuan
Ulangan
Jumlah
rereta
4
5
6
p0
6
9
10
25
8.33
p1
7
9
11
27
9.00
p2
9
9
13
31
10.33
p3
9
9
10
28
9.33
p4
10
10
10
30
10.00
p5
9
9
9
27
9.00
p6
5
9
9
23
7.67

Diameter batang
perlakuan
Ulangan
Jumlah
rerata
4
5
6
p0
1.2
2.2
1.2
4.6
1.53
p1
1.3
1.83
1.4
4.53
1.51
p2
2.2
2.34
1.5
6.04
2.01
p3
1.51
1.82
1.22
4.55
1.52
p4
2.04
1.9
1.44
5.38
1.79
p5
2.1
2.12
1.2
5.42
1.81
p6
1.1
1.91
1.1
4.11
1.37

HASIL ANALISIS RAL
Tabel . Hasil Analisis Keragaman
Pengaruh Pemberian Pupuk N, P dan K Terhadap Data Tinggi Tanaman Jagung
Sumber Keragaman
(SK)
Derajad Bebas (DB)
Jumlah Kuadrat
(JK)
Kuadrat Tengah
(KT)
F.Hit
F tabel
5%
1%
Perlakuan
Galat
6
14
5.197,498
16.612,62
866,25
1186,616
0,73tn

2,85
4,46
Total
20
21.810,118

KK = 26,85 %
Keterangan : Tanda tn tidak berbeda pada α 0,05 dan 0,01 dan disebut tidak nyata (F.Hit < F. Tabel 0,05 dan 0.01)
Kesimpulan dari hasil anova diatas bahwa pemberian beberapa dosis pupuk N, P dan K tidak memberi pengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi tanaman jagung pada tanah gambut.



Tabel. Hasil Analisis Keragaman
Pengaruh Pemberian Pupuk N, P dan K Terhadap Diameter Batang Tanaman Jagung
Sumber Keragaman
(SK)
Derajad Bebas (DB)
Jumlah Kuadrat
(JK)
Kuadrat Tengah
(KT)
F.Hit
F tabel
5%
1%
Perlakuan
Galat
6
14
0,919
2,597
0,153
0,186
0,82tn

2,85
4,46
Total
20
3,517

KK = 26,14 %
Keterangan : Tanda tn tidak berbeda pada α 0,05 dan 0,01 dan disebut tidak nyata (F.Hit < F. Tabel 0,05 dan 0.01)
Kesimpulan dari hasil anova diatas bahwa pemberian beberapa dosis pupuk N, P dan K tidak memberi pengaruh nyata terhadap pertumbuhan diameter batang tanaman jagung pada tanah gambut.
Tabel. Hasil Analisis Keragaman
Pengaruh Pemberian Pupuk N, P dan K Terhadap Jumlah Daun Tanaman Jagung
Sumber Keragaman
(SK)
Derajad Bebas (DB)
Jumlah Kuadrat
(JK)
Kuadrat Tengah
(KT)
F.Hit
F tabel
5%
1%
Perlakuan
Galat
6
14
15,143
38,667
2,524
2,762
0,914tn

2,85
4,46
Total
20
53,81




KK = 18,27%
Keterangan : Tanda tn tidak berbeda pada α 0,05 dan 0,01 dan disebut tidak nyata (F.Hit < F. Tabel 0,05 dan 0.01)
Kesimpulan dari hasil anova diatas bahwa pemberian beberapa dosis pupuk N, P dan K tidak memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan jumlah daun tanaman jagung pada tanah gambut.

A.       Pembahasan
Dari semua analisis Ral yang kami lakukan nilai F hitung < F tabel  maka diantara perlakuan tidak ada perbedaan yang nyata (non signifikan), maka tidak perlu dilakukan uji beda. Dapat dilihat pada hasil analisis RAL diatas.
Ulangan
Perlakuan
N(Urea)/gr
P(SP-36)/gr
K(KCL)/gr
Kapur/gr
P0
80
P1
8
2
80
P2
8
1,2
2
80
P3
8
2,4
2
80
P4
8
3,6
2
80
P5
8
4,8
2
80
P6
8
6
2
80
Dari table perlakuan diatas dapat dilihat bahwa perlakuan dilakukan dengan membandaingkan dosis pupuk, hasil dari kelompok 4 yaitu
No
Perlakuan
Tinggi Tanaman
Diameter Batang
Jumlah Daun
1
P0
112
1,2
6
2
P1
105
1,3
7
3
P2
170
2,2
9
4
P3
125
1,51
9
5
P4
165
2,04
10
6
P5
149
2,1
9
7
P6
85
1,1
5
Dari table diatas pada variable tinggi tanaman P2 menunjukan hasil yang paing besar dan P6 adalah hasil yang paling kecil, pada variable diameter batang P2,P5, dan P4 menunjukan hasil yang paling besar dengan perbandingan yang kecil, dan hasil yang terkecil adalah P6. Dan pada variable jumlah daun P4 menunjukan hasil yang paling besar dan P6 menunjukan hasil yang paling kecil. Dari analisis table di atas menurut saya perlakuan P2 bagus dalam pertumbuhan namun, pada pengamatan berbunga P2 belum muncul bunga. Dan perlakuan yang kurang berpengaruh pada tanaman yaitu P6 dimana setiap variable menunjukan hasil yang kecil. Hal ini menurut saya mungkin karena pemberian dosis pupuk P6 yang terlalu besar.
Tinggi tanaman
perlakuan
Ulangan
Jumlah
rerata
4
5
6
p0
112
175
112.5
399.5
133.17
p1
105
143
105
353
117.67
p2
170
162
112
444
148.00
p3
125
150
60
335
111.67
p4
165
159.5
126.5
451
150.33
p5
149
160.2
81
390.2
130.07
p6
85
145.3
91.5
321.8
107.27

Jumlah daun
perlakuan
Ulangan
Jumlah
rereta
4
5
6
p0
6
9
10
25
8.33
p1
7
9
11
27
9.00
p2
9
9
13
31
10.33
p3
9
9
10
28
9.33
p4
10
10
10
30
10.00
p5
9
9
9
27
9.00
p6
5
9
9
23
7.67

Diameter batang
perlakuan
Ulangan
Jumlah
rerata
4
5
6
p0
1.2
2.2
1.2
4.6
1.53
p1
1.3
1.83
1.4
4.53
1.51
p2
2.2
2.34
1.5
6.04
2.01
p3
1.51
1.82
1.22
4.55
1.52
p4
2.04
1.9
1.44
5.38
1.79
p5
2.1
2.12
1.2
5.42
1.81
p6
1.1
1.91
1.1
4.11
1.37

Dari tabel diatas variabel tinggi tanaman perbandingan rata rata setiap perlaakuan,  peerlakuan p4 dan p2 menunjukan hasil yang paling besar dan perbandingan yang kecil sedangkan hasil yang paling kecil yaitu p6.
Pada variabel jumlah daun p4 dan p2 menunjukan hasil yang paling besar dengan perbandingan yang kecil. Sedangkan hasil yang paling kecil adalah p6.
Pada variabel  diameter batang p2 dengan hasil yang paling besar yaitu2.01 dan hasil yang paling kcil yaitu p6.
Dari perbandingan itu perlakuan p6 adalah perlakuan yang kurang baik menurut saya dikarenakan dosis yang terlalu besar.
B.        Penutup
1.     Kesimpulan
-       Pengaruh pupuk terhadap pertumbuhan jagung ini sangat memberikan dampak yang besar terhadap pertumbuhan jagung, karena pupuk ini mengandung beberapa unsur hara yangg diperlukan oleh tanaman seperti Nitrogen, Posfor dan Kalium
-       Pupuk nitrogen berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman secara vegetative yaitu mencakup tinggi tanaman, diameter tanaman, warna daun & jumlah daun
-       dosis pupuk berpengaruh pada pertumbuhan tanamam
-       perlakuan perbandingan pupuk Posfor pada analisis RAL tidak berperngaruh nyata
2.     Saran
-       Buatkan diktat









DAFTAR PUSTAKA
Kawulusan, H. 1995. Fosfortersedia, pertumbuhandanserapanharaolehjagungpadaAndosol yang dipupuk. P. J. Eugenia 2: 124-133.
Musa, N. 1999.Hasiljagung (Zea mays L.) padawaktutanamdanpemupukanfosfor yang berbeda. J. Solum. 1: 43-52.
Minardi, S. 2002. Kajianterhadappengaturanpemberian air dandosis TSP dalammempengaruhikeragaantanamanjagung (Zea mays L.) di Tanah Vertisol. J. Sains Tanah. 2 (1): 35-40.

Nurdin. 2005. Pertumbuhandanproduksijagung (Zea mays L.) VaritaSLamuru yang dipupukPhonskadosisberbeda di MooduKecamatan Kota Timur Kota Gorontalo. J. Eugenia 11: 396-400.
Putu Budi Adnyana, Ida Bagus Putu Arnyana, 2000, Morfologi Tumbuhan, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Singaraja.
Setyamidjaya, Djoehana. 2000. Teh Budidaya dan Pengolahan Persiapan. Kanisius. Yogyakarta.
Tjitrosoepomo, Gembong, 1985, Morfologi Tumbuhan, 81-82, 126, 236-237, Gajah Mada University Press, Yogyakarta
Widyastuti, Yustina E. dan Adisarwanto T. 2002. Meningkatkan Produksi Jagung di Lahan Kering, Sawah, dan Pasang Surut. PT. Penebar Swadaya. Jakarta





Dokumentasi
Penyiapan Media
   
Tanaman jagung yang mulai tumbuh

 
pengukuran
 
Tanaman berbunga(vegetativ maksimum)