Translate

Jumat, 28 Oktober 2016

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEM PRODUKSI TANAMAN PADA LAHAN BASAH DAN GAMBUT BUDIDAYA CABE

LAPORAN PRAKTIKUM
SISTEM PRODUKSI TANAMAN PADA LAHAN BASAH DAN GAMBUT
BUDIDAYA CABE


KELOMPOK 1
MARIA ANDANI SAFITRI                                   C1011131109
RAFI ADISTA PUTRA                              C1011131125
MUH DUWI LESMANA                            C1011131113
BANA RAHARJO                           C1011131130
Description: Description: F:\logo untan\2.png



AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2016
DAFTAR ISI 

BAB 1

PENDAHULUAN

A.   Latar belakang

Cabe termasuk dalam taman perdu, famili terong-terongan, denangan nama Capsicum annum.Berasal dari  Peru (benua Amerika)  dan menyebar ke benua Amerika, Eropa dan Asia termasuk Indonesia. Tanaman cabe dikenalterdiri dari banyak varietas ( diperkirakan terdiri dari 20 species yang sebagian besar hidup di negara asalnya).Banyak ragam tipe pertumbuhan dan bentuk buahnya.Umumnya yg dikenal : Cabe besar, Cabe keriting,Cabe rawit, paprika.
Tanaman cabe memiliki nilai  kandungan gizi dan vitamin yang cukup tinggimeliputi kalori, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, vitamin A,B1, dan vitamin C.  Karena kandungan gizi dan vitamin yang cukup tinggi itu tanaman cabe banyak di gunakan untuk keperluan  rumah tangga dan  untuk industri ( bumbu masakan, makanan dan obat-obatan atau jamu).
Cabe mempunyai peluang bisnis yang bagus karena kebutuhan yang meningkat (untuk rumah tangga, industri), pertambahan penduduk, pengembangan industri olahan. Karena itu peluang bisnis cabe menjadi terbuka luas untuk usaha peningkatan produksi ( peningkatan pendapatan petani). Peningkatan produksi ini dilakukan dengan cara melakukan perbaikan teknik budidaya secara intensif di lahan perkebunan.Yang paling utama dan penting dalam menanam cabe adalah dasaran. Yang dimaksud dasaran di sini adalah tanah yang akan digunakan media penanaman.
Tanah yang akan di tanami cabe harus berada pada pH 5-6, gembur, dan kaya humus.  Jika tanah masih kondisi asam atau sering ditanami tanaman yang satu famili, maka penting untuk penambahan kapur pertanian atau dolomite untuk meningkatkan pH. Penambahan kapur untuk meningkatkan pH sudah merupakan penyelesaian 50% terhadap kendala kesuburan tanah, selain itu juga penambahan dolomite dapat memberikan unsur kalsium di tanah yang sangat dibutuhkan tanaman saat berbunga nanti. Sangat dianjurkan menanam cabe menggunakan plastic mulsa hitam perak dengan posisi warna hitam di bawah dan warna perak di atas.

B.   Tujuan

Untuk  mengetahui pertumbuhan tanaman cabai dan membandingkan pertumbuhan cabai yang di pangkas dan yang tidak dipangkas.



BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

A.   Sekilas Tentang Cabai (Capsicum annuum L.)

Cabai (Capsicum annuum L. ) adalah tanaman yang termasuk ke dalam keluarga tanaman Solanaceae. Cabai mengandung senyawa kimia yang dinamakan capsaicin (8-methyl-N-vanillyl-6-nonenamide). Selain itu, terkandung juga berbagai senyawa yang mirip dengan capsaicin, yang dinamakan capsaicinoids. Sedangkan Buah cabai merupakan buah buni dengan bentuk garis lanset, merah cerah, dan rasanya pedas. Daging buahnya berupa keping-keping tidak berair. Bijinya berjumlah banyak serta terletak di dalam ruangan buah (Setiadi, 2008).
Tanaman cabai dapat tumbuh subur di berbagai ketinggian tempat mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi tergantung varietasnya. Sebagian besar sentra produsen cabai berada didataran tinggi dengan ketinggian antara 1.000-1250 meter dari permukaan laut. Walaupun di dataran rendah yang panas kadang-kadang dapat juga diperoleh hasil yang memuaskan, namun di daerah pegunungan buahnya dapat lebih besar dan manis. Rata-rata suhu yang baik adalah antara 210 - 280 C. suhu udara yang lebih tinggi menyebabkan buahnya sedikit (Tim Bina Karya Tani, 2009).
Tanaman yang berbuah pedas ini digunakan secara luas sebagai bumbu masakan di seluruh dunia. Tanaman cabai pada mulanya diketahui berasal dari Meksiko, dan menyebar di negara-negara sekitarnya di Amerika Selatan dan Amerika Tengah pada sekitar abad ke-8. Dari Benua Amerika kemudian menyebar ke benua Eropa diperkirakan pada sekitar abad ke-15. Kini tanaman cabai sudah menyebar ke berbagai negara tropik terutama di benua Asia, dan Afrika (Tim Bina Karya Tani, 2009).
Secara umum cabai memiliki banyak kandungan gizi dan vitamin diantaranya Kalori, Protein, Lemak, Karbohidrat, Kalsium, Vitamin A, B, dan Vitamin C. selain digunakan untuk keperluan rumah tangga, cabai juga dapat digunakan untuk keperluan industri diantaranya, Industri bumbu masakan, Industri makanan, Industri obat-obatan atau jamu (Setiadi, 2008).
Di Indonesia pengembangan budidaya tanaman cabai mendapat prioritas perhatian sejak tahun 1961. Tanaman cabai menempati urutan atas dalam skala prioritas penelitian pengembangan garapan Puslitbang Hortikurtura di Indonesia bersama 17 jenis sayuran komersial lainnya (Tim Bina Karya Tani, 2009). Dan daerah-daerah di Indonesia yang merupakan sentra produksi cabai mulai dari urutan yang paling besar adalah daerah-daerah di jawa timur, padang, Bengkulu dan lain-lain sebagainya. Menurut Pickersgill (1989) terdapat lima spesies cabai, yaitu Capsicum annuum, Capsicum frutescens, Capsicum chinense, Capsicum bacctum, dan Capsicum pubescens. Di antara kelima spesies tersebut yang memiliki potensi ekonomis ialah C. annuum dan C. frutescens (Santika,1999).

B.   Klasifikasi Tanaman Cabai

Klasifikasi tanaman cabai sebagai berikut :
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Subkelas : Metachlamidae
Ordo : Tubiflorae
Famili : Solanaceae
Genus : Capsicum
Spesies : Capsicum annuum L.
Ada dua spesies cabai yang terkenal yaitu cabai besar atau cabai merah dan cabai kecil atau cabai rawit. Cabai yang termasuk ke dalam cabai besar atau cabai merah adalah paprika, cabai manis, dan lain-lain. Dan cabai yang termasuk ke dalam golongan cabai kecil adalah cabai rawit, cabai kancing, cabai udel, dan cabai yang biasanya dipelihara sebagai tanaman hias. Pada umumnya cabai kecil ini lebih panjang umurnya, lebih tahan terhadap hujan, dan rasanya lebih pedas (Tim Bina Karya Tani, 2009).
Cabai merupakan tanaman musiman dengan tinggi dapat mencapai satu meter, daun berwarna hijau tua, berbentuk bujur telur dan bunga soliter dengan daun bunga putih. Tanaman cabai keriting merupakan tumbuhan perdu yang berkayu, tumbuh di daerah dengan iklim tropis. Tanaman ini dapat tumbuh dan berkembang biak didataran tinggi maupun dataran rendah (Setiadi, 2008).

C.   Morfologi Tanaman Cabai

1)      Akar
Perakaran tanaman cabai merupakan akar tunggang yang terdiri atas akar utama (primer) dan akar laterl (sekunder), dari akar lateral keluar serabut-serabut akar (akar tersier). Panjang akar primer berkisar 35-50 cm. Akar lateral menyebar dengan panjang berkisar 35-45 cm (Kurnianti, 2010).
2)      Batang
Batang utama tanaman cabai tegak lurus dan kokoh, tinggi sekitar 30-40 cm, dan diameter batang sekitar 1,5-3,0 cm. Batang utama berkayu dan berwarna cokelat kehijauan. Pada budidaya cabai intensif pembentukan kayu pada batang utama mulai terjadi pada umur 30-40 hari setelah tanam (HST). Pada setiap ketiak daun akan tumbuh tunas baru yang dimulai pada umur 10-15 HST. Namun pada budidaya cabai intensif, tunas-tunas baru itu haru dirempel. Pertambahan panjang tanaman cabai diakibatkan oleh pertumbuhan kuncup secara terus-menerus. Pertumbuhan seperti ini disebut pertumbuhan simpodial. Cabang primer akan membentuk percabangan 8 sekunder dan cabang sekunder membentuk percabangan tersier terus- menerus. Pada budidaya cabai secara intensif akan terbentuk sekitar 11-17 percabangan pada satu periode pembungaan (Kurnianti, 2010).
3)      Daun
Daun tanaman cabai bervariasi menurut spesies dan varietasnya. Ada daun yang berbentuk oval, lonjong, bahkan ada yang Ian-set. Warna permukaan daun bagian atas biasanya hijau muda, hijau, hijau tua, bahkan hijau kebiruan. Sedangkan permukaan daun pada bagian bawah umumnya berwarna hijau muda, hijau pucat atau hijau. Permukaan daun cabai ada yang halus adapula yang berkerut-kerut. Ukuran panjang daun cabai antara 3-11 cm, dengan lebar antara 1-5 cm (Kurnianti, 2010).
4)      Bunga dan Buah
Seperti umumnya famili Solanaceae, bunga tanaman cabai berbentuk terompet (hyporcrateriformis). Bunga tanaman cabai tergolong bunga yang lengkap (completus) karena terdiri dari kelopak bunga (calyx), mahkota bunga (corrola), benang sari (stamen), dan putik (pistillium). Alat kelamin jantan (benang sari) dan alat kelamin betina (putik) pada tanaman cabai terletak dalam satu bunga sehingga disebut berkelamin dua (hermaphroditus). Bunga cabai tumbuh di percabangan (ketiak daun), terdiri dari 6 helai kelopak bunga berwarna hijau dan 5 helai mahkota bunga berwarna putih. Bunga tanaman cabai merupakan bunga sempuma, artinya dalam satu tanaman terdapat bunga jantan dan bunga betina. Pemasakan bunga jantan dan bunga betina dalam waktu yang sama (atau hampir sama), sehingga tanaman dapat melakukan penyerbukan sendiri. Namun untuk mendapatkan hasil buah yang lebih baik, penyerbukan silang lebih diutamakan. Karena itu, tanaman cabai yang 9 ditanam di lahan dalam jumlah yang banyak, hasilnya lebih baik dibandingkan tanaman cabai yang ditanam sendirian. (Kurnianti, 2010).
Tangkai putik berwarna putih dengan kepala putik berwarna kuning kehijauan, dalam satu bunga terdapat satu putik dan enam benang sari. Tangkai sari berwarna putih dengan kepala sari berwarna biru keunguan. Setelah penyerbukan akan terjadi pembuahan. Saat pembentukan buah, mahkota bunga rontok tetapi kelopak bunga tetap menempel pada buah. Bentuk buah bervariasi, tergantung pada varietasnya (Kurnianti, 2010).

D.   Syarat Tumbuh

Pada umumnya cabe dapat ditanam pada dataran rendah sampai ketinggian 2000 meter dpl, serta menyukai daerah kering, dan ditemukan pula pada ketinggian 0,5-1.250 m dpl. Cabe dapat beradaptasi dengan baik pada temperatur 24 – 27 derajat Celsius dengan kelembaban yang tidak terlalu tinggi. Tanaman cabe dapat ditanam pada tanah sawah maupun tegalan yang gembur, subur, tidak terlalu liat dan cukup air. Permukaan tanah yang paling ideal adalah datar dengan matahari penuh dan tidak ternaungi, pH tanah yang optimal antara 5,5 sampai 7.
Tanaman cabe juga sangat bagus jika intensitas pengairannya cukup, tetapi apabila jumlahnya berlebihan dapat menyebabkan kelembaban yang tinggi dan merangsang tumbuhnya penyakit jamur dan bakteri, namun sebaliknya jika kekurangan air, tanaman cabe dapat kurus, kerdil, layu dan mati. Sehingga harus benar-benar diperhatikan tingkat pengairannya agar tak terlalu over. Pengairan dapat menggunakan irigasi, air tanah dan air hujan, sebaiknya menghadapai musim kemarau, kita membuat kolam penampung dari pelastik di kebun kita agar pasokan air untuk tanaman dapat terjaga secara optimum (Polengs, 2011).


BAB 3

HASIL DAN PEMBAHASAN


A.   Hasil

-          Persemaian


-          Pembukaan lahan

-pengapuran dan pemasangan mulsa



-          Hasil akhir tanaman di bedengan


Praktikum dilaksanakan di lahan Fakultas pertanian UNTAN pada tanggal 21 mei 2016. Setiap hari sabtu pukul 07.00 WIB sampai selesai. Bahan yang digunakan bibit cabe, pupuk kandang,urea, sp36, KCl, mulsa, kapur dolomite. Alat yang digunakan cangkul, arit, parang, kaleng, alat tulis dan dokumentasi.
Cabe ditanam dengan jarak tanam  dengan jumlah tanamn 8 batang tanaman. Pupuk dasar yang di gunakan adalah pupuk kandang dan pupuk susulan dilakukan pada saat tanaman berumur 2 minggu setelah di pindahkan ke bedengan. Setelah tanaman berumur 2 bulan tanaman yang tersisah hanya sebagian saja dari 8 tanaman tersisa 5 tanaman. Hal ini disebabkan oleh lingkungan dan kurang di perhatikan.
Table 1 Hasil Tanaman
Baris kiri
Baris kanan
T1 = 10,5 cm
T1 = 14,5 cm
T2 = mati
T2 =  13,5 cm
T3 = 18,5 cm
T3 = 26,5 cm
T4 = mati
T4 = mati

B.   Pembahasan

Tanaman cabai dipilih secara khusus dalam kegiatan praktikum  ini karena cabai merupakan salah satu komoditas sayuran yang memiliki nilai komersial dan prospek yang tinggi, budidayanya relatif mudah untuk dilaksanakan,cepat menghasilkan karena tanaman ini memiliki umur panen relatif pendek(genjah), dan juga selain tanaman cabai kaya akan vitamin, juga dipercaya mempunyai khasiat obat yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Produksi cabai dapat ditingkatkan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah melalui upaya budidaya tanaman yang tepat, termasuk perawatannya. Di antara praktek perawatan yang umum dilakukan oleh petani adalah melakukan pemangkasan tunas yang tumbuh di ketiak daun(tunas wiwilan). Menurut beberapa literatur, pemangkasan ini dimaksudkan untuk memperkuat batang dan mengurangi pertumbuhan vegetatif yang tidak perlu di bagian bawah tubuh tanaman dan diarahkan ke bagian atas, selain juga untuk memperluas ruang sirkulasi udara dan penetrasi sinar matahari ke seluruh bagian tanaman. Pemangkasan juga dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan higienis sehingga tanaman bisa terbebas dari serangan hama danpenyakit. Keseluruhan tujuannya adalah agar tanaman dapat memberikan hasil dan kualitas buah yang maksimal.
Pada praktikum yang kami lakukan diharapkan sampai pada tujuan praktikum yaitu sampai pada perlakuan pemangkasan tunas wiwilan namun dalam terkendala waktu jadi tanaman belum bisa untuk dipangkas. Dalam pembahsaan kali ini kami menggunakan data yang ada.
Pada praktikum kali ini tanaman yang kami tanaman pada baris kiri 2 tanaman mati dan baris kanan mati 1 tanaman, mati nya tanaman ini kami duga karenya agak buruknya cuaca yaitu cucaca yang tak menentu terkadang panas terik dan tiba tiba hujan. Tanaman yang mati diduga karena terserang penyakit atau mati kekeringa, karena pada saat tanaman baru di pindahkan dari persemaian ke bedengan tcuaca sangat panas.
Tanaman juga sebelumnya sudah kami beri sedikit naungan dan agak tumbuh dengan baik namun ketika seminggu seltelahnya naungan kami buka, setelah itu tanaman mulai menguning dan mongering. Sebelum tanaman mati kami juga sudah melakukan penyulaman dengan tanaman yang kondisi yang baik.
Tanaman yang mengalami prtumbuhan yang baik adalah baris kanan yang hasilnya dapat kita lihat pada table 1 dan tanaman dengan petumbuhan yang sangat baik adalah tanaman baris kanan T3 dengan tinggi tanaman 26,5 cm dan tanaman yanag memiliki pertu,mbuhan yang rendah adalah baris kiri yaitu T1 dengan tinggi tanaman yang paling rendah yaitu hanya 10,5 cm. hal ini terjadi mungkin karena factor genetic tanaman karena pada awal penyemaian ada beberapa tanaman yang memiliki pertumbuhan yang baik dan yang kurang baik juga mungkin dari factor tanah atau media tanam yang digunakan kurang baik .

BAB 4

PENUTUP

A.   Kesimpulan

·         Pertumbuhan tanaman di pengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan, dan interakisi keduanya.
·         Tanaman cabai yang mati karena serangan penyakit dan kekeringan.
·         Pertumbuhan tanaman yang paling baik adalah tanaman T3 pada baris kanan dengan tinggi 26,5 cm dan tanaman yang paling rendah pertumbuhannya adalah tanaman T1 pada baris kiri dengan tinggi tanaman 10,5 cm.
·         Pertumbuhan tanaman pada baris kanan lebihi baik jika dibandingkan dengan tanaman pada baris kiri.


B.   Saran

Prektikum sebaiknnya dilakuan secepat dan seawal mungkin agar dapat sampai pada perlakuan atau tujuaan praktikum agar hasil data lebih jelas dan akan memudahkan dalam  melakukan pembahasan dan perbandingan.


DAFTAR PUSTAKA


Setiadi, 2008. Bertanam Cabai. Penebar Swadaya. Jakarta
Santika, A. 1999. Agribisnis Cabai. Penebar Swadaya. Jakarta.
Tim Bina Karya Tani., 2009. Pedoman Bertanam Cabai. Cetakan II, Yrama Widya, Bandung.
Polengs, 2011. Cabai, Pertanian, Tanaman  http:// budidayanews.blogspot.com/ 2011/03/cara-budidaya-cabai-rawit.html  diakses 4 November 2012


Tidak ada komentar:

Posting Komentar