LAPORAN PRAKTIKUM
SISTEM PRODUKSI TANAMAN
PADA LAHAN BASAH DAN GAMBUT
BUDIDAYA CABE
KELOMPOK 1
MARIA ANDANI SAFITRI
C1011131109
RAFI ADISTA PUTRA C1011131125
MUH DUWI LESMANA
C1011131113
BANA RAHARJO C1011131130

AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2016
DAFTAR ISI
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Cabe
termasuk dalam taman perdu, famili terong-terongan, denangan nama Capsicum
annum.Berasal dari Peru (benua Amerika) dan menyebar ke benua Amerika, Eropa dan Asia
termasuk Indonesia. Tanaman cabe dikenalterdiri dari banyak varietas (
diperkirakan terdiri dari 20 species yang sebagian besar hidup di negara asalnya).Banyak ragam tipe
pertumbuhan dan bentuk buahnya.Umumnya yg dikenal :
Cabe besar, Cabe
keriting,Cabe rawit, paprika.
Tanaman cabe memiliki nilai kandungan gizi dan vitamin yang cukup
tinggimeliputi kalori, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, vitamin A,B1,
dan vitamin C. Karena kandungan gizi dan
vitamin yang cukup tinggi itu tanaman cabe banyak di gunakan untuk keperluan rumah tangga dan untuk industri ( bumbu masakan, makanan
dan obat-obatan atau jamu).
Cabe
mempunyai peluang bisnis yang bagus
karena kebutuhan yang meningkat (untuk rumah tangga, industri),
pertambahan penduduk, pengembangan industri olahan. Karena itu peluang bisnis
cabe menjadi terbuka luas untuk usaha peningkatan produksi ( peningkatan
pendapatan petani). Peningkatan produksi ini dilakukan dengan cara melakukan
perbaikan teknik budidaya secara intensif di lahan perkebunan.Yang paling utama dan penting dalam menanam cabe adalah dasaran.
Yang dimaksud dasaran di sini adalah tanah yang akan digunakan media penanaman.
Tanah yang akan di tanami cabe harus berada pada pH
5-6, gembur, dan kaya humus. Jika tanah masih kondisi asam atau sering ditanami
tanaman yang satu famili, maka penting untuk penambahan kapur pertanian atau
dolomite untuk meningkatkan pH. Penambahan kapur untuk meningkatkan pH sudah merupakan
penyelesaian 50% terhadap kendala kesuburan tanah, selain itu juga penambahan
dolomite dapat memberikan unsur kalsium di tanah yang sangat dibutuhkan tanaman
saat berbunga nanti. Sangat dianjurkan menanam cabe menggunakan plastic mulsa hitam
perak dengan posisi warna hitam di bawah dan warna perak di atas.
B. Tujuan
Untuk
mengetahui pertumbuhan tanaman cabai dan
membandingkan pertumbuhan cabai yang di pangkas dan yang tidak dipangkas.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
A. Sekilas Tentang Cabai (Capsicum annuum L.)
Cabai (Capsicum annuum
L. ) adalah tanaman yang termasuk ke dalam keluarga tanaman Solanaceae. Cabai
mengandung senyawa kimia yang dinamakan capsaicin
(8-methyl-N-vanillyl-6-nonenamide). Selain itu, terkandung juga berbagai
senyawa yang mirip dengan capsaicin, yang dinamakan capsaicinoids. Sedangkan
Buah cabai merupakan buah buni dengan bentuk garis lanset, merah cerah, dan
rasanya pedas. Daging buahnya berupa keping-keping tidak berair. Bijinya
berjumlah banyak serta terletak di dalam ruangan buah (Setiadi, 2008).
Tanaman cabai dapat
tumbuh subur di berbagai ketinggian tempat mulai dari dataran rendah sampai
dataran tinggi tergantung varietasnya. Sebagian besar sentra produsen cabai
berada didataran tinggi dengan ketinggian antara 1.000-1250 meter dari
permukaan laut. Walaupun di dataran rendah yang panas kadang-kadang dapat juga
diperoleh hasil yang memuaskan, namun di daerah pegunungan buahnya dapat lebih
besar dan manis. Rata-rata suhu yang baik adalah antara 210 - 280
C. suhu udara yang lebih tinggi menyebabkan buahnya sedikit (Tim Bina Karya
Tani, 2009).
Tanaman yang berbuah
pedas ini digunakan secara luas sebagai bumbu masakan di seluruh dunia. Tanaman
cabai pada mulanya diketahui berasal dari Meksiko, dan menyebar di
negara-negara sekitarnya di Amerika Selatan dan Amerika Tengah pada sekitar
abad ke-8. Dari Benua Amerika kemudian menyebar ke benua Eropa diperkirakan
pada sekitar abad ke-15. Kini tanaman cabai sudah menyebar ke berbagai negara
tropik terutama di benua Asia, dan Afrika (Tim Bina Karya Tani, 2009).
Secara umum cabai
memiliki banyak kandungan gizi dan vitamin diantaranya Kalori, Protein, Lemak,
Karbohidrat, Kalsium, Vitamin A, B, dan Vitamin C. selain digunakan untuk
keperluan rumah tangga, cabai juga dapat digunakan untuk keperluan industri
diantaranya, Industri bumbu masakan, Industri makanan, Industri obat-obatan
atau jamu (Setiadi, 2008).
Di
Indonesia pengembangan budidaya tanaman cabai mendapat prioritas perhatian
sejak tahun 1961. Tanaman cabai menempati urutan atas dalam skala prioritas
penelitian pengembangan garapan Puslitbang Hortikurtura di Indonesia bersama 17
jenis sayuran komersial lainnya (Tim Bina Karya Tani, 2009). Dan daerah-daerah
di Indonesia yang merupakan sentra produksi cabai mulai dari urutan yang paling
besar adalah daerah-daerah di jawa timur, padang, Bengkulu dan lain-lain sebagainya.
Menurut Pickersgill (1989) terdapat lima spesies cabai, yaitu Capsicum annuum, Capsicum frutescens,
Capsicum chinense, Capsicum bacctum, dan Capsicum pubescens. Di antara kelima spesies tersebut yang memiliki
potensi ekonomis ialah C. annuum dan C.
frutescens (Santika,1999).
B. Klasifikasi Tanaman Cabai
Klasifikasi tanaman cabai sebagai
berikut :
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Subkelas : Metachlamidae
Ordo : Tubiflorae
Famili : Solanaceae
Genus : Capsicum
Spesies
: Capsicum annuum L.
Ada dua spesies cabai
yang terkenal yaitu cabai besar atau cabai merah dan cabai kecil atau cabai
rawit. Cabai yang termasuk ke dalam cabai besar atau cabai merah adalah
paprika, cabai manis, dan lain-lain. Dan cabai yang termasuk ke dalam golongan
cabai kecil adalah cabai rawit, cabai kancing, cabai udel, dan cabai yang
biasanya dipelihara sebagai tanaman hias. Pada umumnya cabai kecil ini lebih
panjang umurnya, lebih tahan terhadap hujan, dan rasanya lebih pedas (Tim Bina
Karya Tani, 2009).
Cabai
merupakan tanaman musiman dengan tinggi dapat mencapai satu meter, daun
berwarna hijau tua, berbentuk bujur telur dan bunga soliter dengan daun bunga
putih. Tanaman cabai keriting merupakan tumbuhan perdu yang berkayu, tumbuh di
daerah dengan iklim tropis. Tanaman ini dapat tumbuh dan berkembang biak
didataran tinggi maupun dataran rendah (Setiadi, 2008).
C. Morfologi Tanaman Cabai
1)
Akar
Perakaran
tanaman cabai merupakan akar tunggang yang terdiri atas akar utama (primer) dan
akar laterl (sekunder), dari akar lateral keluar serabut-serabut akar (akar
tersier). Panjang akar primer berkisar 35-50 cm. Akar lateral menyebar dengan
panjang berkisar 35-45 cm (Kurnianti, 2010).
2)
Batang
Batang
utama tanaman cabai tegak lurus dan kokoh, tinggi sekitar 30-40 cm, dan
diameter batang sekitar 1,5-3,0 cm. Batang utama berkayu dan berwarna cokelat
kehijauan. Pada budidaya cabai intensif pembentukan kayu pada batang utama
mulai terjadi pada umur 30-40 hari setelah tanam (HST). Pada setiap ketiak daun
akan tumbuh tunas baru yang dimulai pada umur 10-15 HST. Namun pada budidaya
cabai intensif, tunas-tunas baru itu haru dirempel. Pertambahan panjang tanaman
cabai diakibatkan oleh pertumbuhan kuncup secara terus-menerus. Pertumbuhan
seperti ini disebut pertumbuhan simpodial. Cabang primer akan membentuk
percabangan 8 sekunder dan cabang sekunder membentuk percabangan tersier terus-
menerus. Pada budidaya cabai secara intensif akan terbentuk sekitar 11-17
percabangan pada satu periode pembungaan (Kurnianti, 2010).
3)
Daun
Daun
tanaman cabai bervariasi menurut spesies dan varietasnya. Ada daun yang
berbentuk oval, lonjong, bahkan ada yang Ian-set. Warna permukaan daun bagian
atas biasanya hijau muda, hijau, hijau tua, bahkan hijau kebiruan. Sedangkan
permukaan daun pada bagian bawah umumnya berwarna hijau muda, hijau pucat atau
hijau. Permukaan daun cabai ada yang halus adapula yang berkerut-kerut. Ukuran
panjang daun cabai antara 3-11 cm, dengan lebar antara 1-5 cm (Kurnianti,
2010).
4)
Bunga
dan Buah
Seperti umumnya famili
Solanaceae, bunga tanaman cabai berbentuk terompet (hyporcrateriformis). Bunga
tanaman cabai tergolong bunga yang lengkap (completus) karena terdiri dari
kelopak bunga (calyx), mahkota bunga (corrola), benang sari (stamen), dan putik
(pistillium). Alat kelamin jantan (benang sari) dan alat kelamin betina (putik)
pada tanaman cabai terletak dalam satu bunga sehingga disebut berkelamin dua
(hermaphroditus). Bunga cabai tumbuh di percabangan (ketiak daun), terdiri dari
6 helai kelopak bunga berwarna hijau dan 5 helai mahkota bunga berwarna putih.
Bunga tanaman cabai merupakan bunga sempuma, artinya dalam satu tanaman
terdapat bunga jantan dan bunga betina. Pemasakan bunga jantan dan bunga betina
dalam waktu yang sama (atau hampir sama), sehingga tanaman dapat melakukan
penyerbukan sendiri. Namun untuk mendapatkan hasil buah yang lebih baik,
penyerbukan silang lebih diutamakan. Karena itu, tanaman cabai yang 9 ditanam
di lahan dalam jumlah yang banyak, hasilnya lebih baik dibandingkan tanaman
cabai yang ditanam sendirian. (Kurnianti, 2010).
Tangkai
putik berwarna putih dengan kepala putik berwarna kuning kehijauan, dalam satu
bunga terdapat satu putik dan enam benang sari. Tangkai sari berwarna putih
dengan kepala sari berwarna biru keunguan. Setelah penyerbukan akan terjadi
pembuahan. Saat pembentukan buah, mahkota bunga rontok tetapi kelopak bunga
tetap menempel pada buah. Bentuk buah bervariasi, tergantung pada varietasnya
(Kurnianti, 2010).
D.
Syarat Tumbuh
Pada umumnya cabe
dapat ditanam pada dataran rendah sampai ketinggian 2000 meter dpl, serta
menyukai daerah kering, dan ditemukan pula pada ketinggian 0,5-1.250 m dpl.
Cabe dapat beradaptasi dengan baik pada temperatur 24 – 27 derajat Celsius dengan
kelembaban yang tidak terlalu tinggi. Tanaman cabe dapat ditanam pada tanah
sawah maupun tegalan yang gembur, subur, tidak terlalu liat dan cukup air.
Permukaan tanah yang paling ideal adalah datar dengan matahari penuh dan
tidak ternaungi, pH tanah yang optimal antara 5,5 sampai 7.
Tanaman cabe juga sangat bagus jika intensitas
pengairannya cukup, tetapi apabila jumlahnya berlebihan dapat menyebabkan
kelembaban yang tinggi dan merangsang tumbuhnya penyakit jamur dan bakteri,
namun sebaliknya jika kekurangan air, tanaman cabe dapat kurus, kerdil, layu
dan mati. Sehingga harus benar-benar diperhatikan tingkat pengairannya agar tak
terlalu over. Pengairan dapat menggunakan irigasi, air tanah dan air hujan,
sebaiknya menghadapai musim kemarau, kita membuat kolam penampung dari pelastik
di kebun kita agar pasokan air untuk tanaman dapat terjaga secara optimum
(Polengs, 2011).
BAB
3
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil
-
Persemaian
![]() |
![]() |
-
Pembukaan lahan
![]() |
![]() |
-pengapuran
dan pemasangan mulsa
![]() |
![]() |
-
Hasil akhir tanaman di
bedengan
![]() |
![]() |
Praktikum dilaksanakan di lahan Fakultas pertanian
UNTAN pada tanggal 21 mei 2016. Setiap hari sabtu pukul 07.00 WIB sampai
selesai. Bahan yang digunakan bibit cabe, pupuk kandang,urea, sp36, KCl, mulsa,
kapur dolomite. Alat yang digunakan cangkul, arit, parang, kaleng, alat tulis
dan dokumentasi.
Cabe
ditanam dengan jarak tanam dengan jumlah
tanamn 8 batang tanaman. Pupuk dasar yang di gunakan adalah pupuk kandang dan
pupuk susulan dilakukan pada saat tanaman berumur 2 minggu setelah di pindahkan
ke bedengan. Setelah tanaman berumur 2 bulan tanaman yang tersisah hanya
sebagian saja dari 8 tanaman tersisa 5 tanaman. Hal ini disebabkan oleh
lingkungan dan kurang di perhatikan.
Table 1 Hasil Tanaman
Baris kiri
|
Baris kanan
|
T1 = 10,5 cm
|
T1 = 14,5 cm
|
T2 = mati
|
T2 = 13,5 cm
|
T3 = 18,5 cm
|
T3 = 26,5 cm
|
T4 = mati
|
T4 = mati
|
B. Pembahasan
Tanaman
cabai dipilih secara khusus dalam kegiatan praktikum ini karena cabai merupakan salah satu
komoditas sayuran yang memiliki nilai komersial dan prospek yang
tinggi, budidayanya relatif mudah untuk dilaksanakan,cepat menghasilkan karena
tanaman ini memiliki umur panen relatif pendek(genjah), dan juga selain tanaman
cabai kaya akan vitamin, juga dipercaya mempunyai khasiat obat yang sangat
bermanfaat bagi kesehatan. Produksi cabai dapat ditingkatkan dengan berbagai
cara. Salah satunya adalah melalui upaya budidaya tanaman
yang tepat, termasuk perawatannya. Di antara praktek perawatan yang umum
dilakukan oleh petani adalah melakukan pemangkasan tunas yang tumbuh di ketiak
daun(tunas wiwilan). Menurut
beberapa literatur, pemangkasan ini dimaksudkan untuk memperkuat batang dan
mengurangi pertumbuhan vegetatif yang tidak perlu di bagian bawah tubuh tanaman
dan diarahkan ke bagian atas, selain juga untuk memperluas ruang sirkulasi
udara dan penetrasi sinar matahari ke seluruh bagian tanaman. Pemangkasan juga
dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan higienis
sehingga tanaman bisa terbebas dari serangan hama danpenyakit. Keseluruhan tujuannya
adalah agar tanaman dapat memberikan hasil dan kualitas buah yang maksimal.
Pada praktikum
yang kami lakukan diharapkan sampai pada tujuan praktikum yaitu sampai pada
perlakuan pemangkasan tunas wiwilan namun dalam terkendala waktu jadi tanaman
belum bisa untuk dipangkas. Dalam pembahsaan kali ini kami menggunakan data
yang ada.
Pada praktikum
kali ini tanaman yang kami tanaman pada baris kiri 2 tanaman mati dan baris
kanan mati 1 tanaman, mati nya tanaman ini kami duga karenya agak buruknya
cuaca yaitu cucaca yang tak menentu terkadang panas terik dan tiba tiba hujan.
Tanaman yang mati diduga karena terserang penyakit atau mati kekeringa, karena
pada saat tanaman baru di pindahkan dari persemaian ke bedengan tcuaca sangat
panas.
Tanaman juga
sebelumnya sudah kami beri sedikit naungan dan agak tumbuh dengan baik namun
ketika seminggu seltelahnya naungan kami buka, setelah itu tanaman mulai
menguning dan mongering. Sebelum tanaman mati kami juga sudah melakukan
penyulaman dengan tanaman yang kondisi yang baik.
Tanaman yang
mengalami prtumbuhan yang baik adalah baris kanan yang hasilnya dapat kita
lihat pada table 1 dan tanaman dengan petumbuhan yang sangat baik adalah
tanaman baris kanan T3 dengan tinggi tanaman 26,5 cm dan tanaman yanag memiliki
pertu,mbuhan yang rendah adalah baris kiri yaitu T1 dengan tinggi tanaman yang
paling rendah yaitu hanya 10,5 cm. hal ini terjadi mungkin karena factor
genetic tanaman karena pada awal penyemaian ada beberapa tanaman yang memiliki
pertumbuhan yang baik dan yang kurang baik juga mungkin dari factor tanah atau
media tanam yang digunakan kurang baik .
BAB 4
PENUTUP
A. Kesimpulan
·
Pertumbuhan
tanaman di pengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan, dan interakisi keduanya.
·
Tanaman cabai
yang mati karena serangan penyakit dan kekeringan.
·
Pertumbuhan
tanaman yang paling baik adalah tanaman T3 pada baris kanan dengan tinggi 26,5
cm dan tanaman yang paling rendah pertumbuhannya adalah tanaman T1 pada baris
kiri dengan tinggi tanaman 10,5 cm.
·
Pertumbuhan
tanaman pada baris kanan lebihi baik jika dibandingkan dengan tanaman pada
baris kiri.
B. Saran
Prektikum sebaiknnya dilakuan secepat dan seawal
mungkin agar dapat sampai pada perlakuan atau tujuaan praktikum agar hasil data
lebih jelas dan akan memudahkan dalam
melakukan pembahasan dan perbandingan.
DAFTAR PUSTAKA
Setiadi,
2008. Bertanam Cabai. Penebar Swadaya. Jakarta
Santika,
A. 1999. Agribisnis Cabai. Penebar Swadaya. Jakarta.
Tim
Bina Karya Tani., 2009. Pedoman Bertanam Cabai. Cetakan II, Yrama Widya,
Bandung.
Polengs, 2011. Cabai, Pertanian, Tanaman http:// budidayanews.blogspot.com/
2011/03/cara-budidaya-cabai-rawit.html diakses 4 November 2012








Tidak ada komentar:
Posting Komentar